Fakta

Anies Baswedan Bikin Gemes, Mata Najwa Menggemaskan

Mata Najwa, Najwa Shihab, Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, Talk Show, Televisi, Headline
Anies Baswedan dan Najwa Shihab (Foto: Tribunnews.com)
Acara Mata Najwa yang menghadirkan Gubernur DKI Jakarta memunculkan cemooh sekaligus pujian yang ditujukanbaik kepada Najwa Shihab maupun Anies Baswedan.

Anies merupakan penggugah kata-kata paling wahid. Banyak orang mengakuinya, baik kawan maupun lawan. Dari setiap kata yang keluar dari mulutnya (semoga juga sejalan dengan pikiran dan nuraninya -karena ini domain privat Anies), seringkali membuat banyak orang gemes. Anies “nggemesin”.

Dalam praktiknya, “gemes” bisa bermakna banyak bagi setiap orang. Ada yang gemes karena kesal/tidak suka, ada yang karena cinta atau suka. Dalam kamus KBBI, gemas diartikan; 1. sangat jengkel (marah) dalam hati ; 2. sangat suka (cinta) bercampur jengkel; jengkel-jengkel (cinta). Sedangan “menggemaskan” diartikan; menyebabkan (menerbitkan rasa) gemas.

Beberapa waktu lalu dalam suasana 100 Hari Anies-Sandi jadi gubernur/wakil gubernur DKI, Anies jadi tamu kehormatan acara “Mata Najwa”. Siapa yang tak tahu acara yang terkenal ini? Para penghuni bumi bulat dan bumi datar tahu betul acara ini berdasarkan persepsi masing-masing.

Mata Najwa dikenal berani dan tajam, mencecar banyak pertanyaan kepada bintang tamunya. Sebagian orang bahkan menganggap panggung acara “Mata Najwa sebagai arena pembantaian”. Banyak tokoh pernah tampil, misalnya Jokowi, Ahok, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan lain-lain. Apakah mereka “dibantai”? Tentu saja!

Gaya Mata Najwa memang “tidak ramah” bagi siapapun! Yang jadi persoalan adalah bagaimana sang tokoh yang diwawancarai menghadapi ketidakramahan dan pembantaian oleh Mata Nazwa? Di sinilah titik kegemasan itu akan tercipta, tidak pakai saos, tidak pakai sambel, juga tidak pakai kol ! Heu heu heu….

Baca Juga:  100 Hari Kerja Anies-Sandi, Apanya yang Mau Dilihat?

Anies Baswedan bukan cuma sekali saja tampil di cara Mata Najwa. Sebelumnya dia pernah tampil dengan ‘jabatan’ yang berbeda, yakni pernah sebagai cendikiawan/pengamat politik, cagub DKI, dan yang teranyar sebagai Gubernur DKI. Tentu saja Anies tak asing lagi dengan Mata Najwa. Dia paham arena ini.

Dalam setiap penampilan di Mata Najwa, Anies tentu (harusnya) berlaku sebagai petarung sesuai “jabatannya” tersebut saat menghadapi pembantaian. Bukan dengan “kelakuan” lama yang tak relevan dengan “jabatannya” karena rawan menjadi sansak empuk pembantaian.

Bukan begitu? Heu heu heu… Bukan Anies namanya kalau tak bikin “gemes”. Dan bukan Mata Najwa pula kalau tak “menggemaskan”.

Dalam acara Mata Najwa kemarin Anies dengan “jabatan” baru sebagai Gubernur DKI, kedua pihak -Anies dan Najwa ‘Nana’ Syihab- jadi bintang Gemes bagi penghuni bumi datar dan bumi bulat berdasarkan masing-masing persepsi.

Bagi penghuni bumi datar, Nana tidak fair- Nana failed – Nana kopong – Nana Nyinyir dan seabrek persepsi sejenis lainnya karena Nana selalu memotong pembicaraan panjang kali lebar yang meluncur dari mulut Anies. Mata Najwa dianggap tidak paham apa yang disampaikan Anies.

Bagi penghuni bumi bulat penampilan Nana sudah sangat pas. Nana tampil cerdas, tajam, tangguh, dan seabrek persepsinya karena Nana melihat Anies memberikan jawaban tidak tegas, tidak fokus pada pertanyaan. Anies suka muter-muter kayak baling-baling bambu Doraemon. Anies terlalu banyak ngeles dan lain sebagainya.

Bagaimana “Kegemasan” itu bisa terjadi? Anies tampil dengan “gaya lama” layaknya intelektual yang “demen berpanjang kali lebar” dalam menjawab suatu fenomena. Cendikiawan atau intelektual biasanya ingin terlihat cerdas, wise, filsuf, bebas nilai, tidak dogmatis, dan memaparkan penjelsan untuk mengajak orang berpikir ulang. Intelektual tidak dalam kapasitas sebagai eksekutor terhadap suatu masalah, melainkan memberikan wacana kritik pada segala aspek suatu fenomena/permasalahan.

Baca Juga:  Sudah Tepat Anies Batalkan Pembuatan Lift di Rumah Dinasnya

Mata Najwa juga tampil dengan “gaya lama”, yakni tetap tajam, ngeyel, kejam, to the point, tak berperasaan. Gaya ini adalah “trade mark” Mata Najwa sejak lahir hingga akhir jaman. Gaya Mata Najwa tak perduli siapa pun tokoh yang dihadapi, dan satu hal penting ; Mata Najwa kejam pada label/sematan/jabatan si Tokoh terkini. Dia tak berpegang pada jabatan masa lalu si Tokoh.

Mata Najwa menuntut jawaban terkini sang Tokoh yang diwawancarai. Satu hal penting lainnya diperlukan Mata Najwa adalah kepemilikan selera humor tingkat tinggi si Tokoh agar “kegemesan ini janganlah cepat berlalu, kegemesan ini ingin kukenang selalu,, hatiku damai..” Hahahaha!

Ketika kemarin Nana Mata Najwa “membantai” Anies, yang dipakai adalah “gada” untuk “membantai jabatan” Gubernur DKI yang disandang Anies. Sama hal nya ketika Mata Najwa membantai Ahok saat menjabat gubernur DKI, bukan Ahok sebagai (mantan) anggota DPR-RI. Gadanya sama untuk membantai Jokowi saat menjabat gubernur DKI, bukan saat Jokowi menjabat Walikota Solo.

Pada wawancara dengan Anies, konteks permasalahan provinsi DKI lah yang jadi obyek pukulan Gada Nana. Tinggal bagaimana Anies bergemes ria secara paripurna. Dalam gada Nana, ketajaman pertanyaannya pada jabatan gubernur DKI menuntut jawaban lugas dan tajam, tanpa aling-aling, tanpa bunga-bunga sastra, tidak pakai saos, tidak pakai sambel dan juga tidak pakai kol.

Bagaimana Gubernur Anies berjibaku di arena pembantaian Nama? Heu heu heu…inilah yang bikin gemes!

Harus diingat kembali bahwa Anies bukan pendatang baru di Mata Najwa. Anies (harusnya) paham aura arena Mata Najwa. Artinya, dia (harusnya) berjibaku sesuai jabatan terkini, bukan berlebay dengan sematan jabatan lama kalau ingin selamat dari bandara bumi datar ke bandara bumi bulat atau sebaliknya. Kalau Anies selamat hanya di satu bumi saja, maka Anies sebagai Gubernur “Jakarta untuk Semua Orang” telah gagal jadi ‘petarung kontemporer’ di Mata Najwa. Sementara Nana dari kejauhan -seperti biasa- senyum-senyum ‘nggemesin’.

Gagal atau berhasilkah Anies di Mata Najwa dengan jabatan terkini ? Hanya Tuhan lah yang tahu isi Gemes bumi datar dan bumi bulat.

Menurut Prof. Pebrianov, PhD, BUUD, KUD, IUD pakar Orbit Gemes ; “Kegemesan Anies dan Nana merupakan Kegemesan milik penghuni bumi datar dan penghuni bumi bulat. Arena Mata Najwa menyatukan bumi bulat dan bumi datar dalam satu Orbit Gemes”. Sayangnya gemes itu pakai saos, pakai sambel dan juga pakai kol! Heu heu heu!

Lho, bukankah Anies “bikin gemes always” karena lupa jabatannya sebagai Gubernur DKI? Oh, gitu ya?

“Maju Gemesnya, Bahagia Warganya”.

Aah, tulisan ini sungguh menggemaskan. Dasssaar! Heu heu heu…

***

Editor: Pepih Nugraha