Gaya

Sejarah Catur Dunia (7): Akhir Abad XIX Steinitz Juara Dunia

Sejarah, Catur, Dwilomba, Wilhelm Steinitz, Headline
Wilhelm Steinitz vs Johannes Zuckertort (Foto: Ajedrejzonmaestros.com)
Wilhelm Steinitz dinobatkan sebagia juara catur pertama dunia setelah berhasil mengalahkan Zuckertort dan Chigorin. Ia banyak memainkan dwitarung.

Setelah kemenangan besar Dr. Zukertort di London itu maka dunia catur menanti-nantikan dwilomba antara Steinitz melawan Zukertort. Perundingan-perundingan mengenai dwilomba itu berlangsung hampir dua tahun. Sementara itu Steinitz telah pindah ke New York dan Zukertort juga telah pindah ke London.

Akhirnya dwilomba itu disepakati untuk diadakan di Amerika Serikat pada tahun 1886. Kebetulan pada tahun 1884 Paul Morphy telah meninggal dunia, sehingga kini tidak ada lagi keberatan untuk menyebut dwilomba itu sebagai dwilomba kejuaraan dunia.

Disepakati bahwa pemenang dwilomba adalah pemain yang lebih dulu meraih 10 kemenangan, remis tidak dihitung. Bila terjadi skor 9 – 9 maka dwilomba dinyatakan berakhir seri. Waktu berpikir adalah 30 langkah dalam 2 jam pertama, kemudian 15 langkah untuk tiap jam berikut. Jam catur yang digunakan adalah jam catur satu badan yang dibuat oleh T B Wilson, seperti yang dipergunakan dalam turnamen London tiga tahun sebelumnya.

Untuk pertama kalinya disediakan papan demonstrasi 1 x 1 meter persegi yang ditempatkan di dinding di atas para pecatur sehingga penonton dapat mengikuti permainan dengan mudah. Dwilomba diadakan di tiga kota, yaitu di New York, St. Louis, dan New Orleans dan dimulai pada bulan Januari 1886.

Lima partai pertama dimainkan di kota New York. Steinitz memulai dwilomba ini dengan buruk dan harus menderita 4 kali kekalahan. Oleh karena itu ia mengubah permainannya dan kini mengandalkan permainan posisionalnya yang termasyur itu sehingga dalam empat partai berikutnya yang dimainkan di St. Louis ia berhasil menyamakan skor menjadi 4 – 4 dengan 1 partai remis.

Sisa pertandingan dimainkan di kota New Orleans di mana Zukertort harus mengakui kekalahannya pada partai ke-20. Steinitz menang dengan 10 – 5 dengan 5 partai remis. “Steinitz si realis telah memukul si artis Zukertort!” demikian harian-harian waktu itu menulis.

Prof. Lasker di kemudian hari berkomentar tentang dwilomba ini: “Pemikir teragung menang dari bakat teragung.” Dengan demikian Steinitz menjadi juara dunia pertama yang resmi diakui oleh FIDE. Dua tahun kemudian Dr. Zukertort meninggal akibat serangan jantung.

Setelah kemenangan Steinitz itu publik catur menanti-nantikan pertarungan selanjutnya. Klub catur Havana telah menawarkan suatu dwilomba antara Steinitz dengan seorang lawan yang dipilihnya sendiri. Steinitz memilih Mikhail Chigorin, lawan beratnya dalam turnamen-turnamen.

Steinitz melawan Chigorin (Foto: Chessentials.com)
Steinitz melawan Chigorin (Foto: Chessentials.com)

Dalam turnamen London 1883, misalnya, Steinitz dikalahkan dua kali oleh Chigorin. Walaupun demikian Steinitz yakin bahwa dirinya lebih kuat dan ia bermaksud membuktikannya. Mikhail Chigorin memang seorang pemain yang kuat, dalam permainannya dapat ditemukan ide-ide yang baru populer pada masa-masa kemudian. Walaupun demikian pada zamannya Chigorin dikenal sebagai seorang penyerang yang ganas. Chigorin juga banyak berjasa dalam mempopulerkan dan menanamkan rasa cinta catur pada rakyat Rusia.

Kali ini pemenang dwilomba adalah ia yang mengumpulkan lebih banyak angka dalam pertarungan 20 partai. Dwilomba dilangsungkan di Havana tahun 1889. Pertarungan berlangsung dengan sengit, namun Steinitz berhasil memenangkannya dengan skor 10½ – 6½ pada partai ke-17. Tiga partai sisa tak perlu dimainkan lagi. Dwilomba ini sungguh menjadi dwilomba yang paling ‘berdarah’ sebab dari 17 partai hanya satu partai yang berakhir dengan remis yaitu partai ke-17.

Dwilomba berikutnya diorganisasi oleh klub catur Manhattan. Kali ini penantangnya adalah Isidor Gunsberg asal Austria. Dwilomba diadakan di New York pada tahun 1891 dengan ketentuan yang sama seperti dwilomba sebelumnya. Steinitz membutuhkan 19 partai untuk menghentikan perlawanan Gunsberg dengan skor 10½ – 8½, hasil menang 6 kali, kalah 4 kali dan remis 9 kali.

Perundingan untuk dwilomba berikutnya berjalan dengan alot. Usaha klub catur Havana untuk mempertemukan Steinitz dengan pemain yang paling banyak sukses di turnamen-turnamen pada saat itu, Dr. Siegbert Tarrasch, menemui jalan buntu. Sehingga akhirnya diputuskan Mikhail Chigorinlah yang akan kembali mencoba menjatuhkan Steinitz.

Kali ini pemenang adalah ia yang meraih 10 kemenangan, bila skor 9 – 9, maka pertandingan dilanjutkan sampai salah seorang memperoleh 12 kali menang. Dwilomba dilangsungkan di Havana pada tahun 1892. Chigorin memenangkan partai perdana dan sampai partai ke-12 ia masih memimpin 5 – 3. Namun setelah itu Steinitz kembali bangkit dan akhirnya menamatkan perlawanan Chigorin setelah bermain 23 partai. Steinitz menang 10 – 8 dengan 5 partai remis.

***

Baca Juga:  Malasnya Wakil Rakyat bukan Sekadar Penyakit Kambuhan

Editor: Pepih Nugraha

Tulisan sebelumnya:

Sejarah Catur Dunia (6): Steinitz, Lahirnya Teori Catur Modern