Gaya

Yang Tidak Diceritakan dalam Film “Ayat-ayat Cinta 2”

Resensi, Film, Headline, Ayat-ayat Cinta 2
Pemeran Ayat-ayat Cinta 2 (id.bookmyshow.com)
Yang paling afdol itu membaca novelnya terlebih dahulu untuk mengetahui latar belakang efek yang dimunculkan di film sebelum menonton filmnya.

“Kalau ada film yang diangkat dari novel, you harus baca novelnya,” Kata Ibu Debra Yatim, seorang mentor saat aku mengikuti workshop Creative Writing Nonfiction bersama Tim dari The Jakarta Post Writing Center di Perpustakaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. “You bakal tau asal usul ceritanya secara utuh  dari buku karena tidak semua hal diceritakan dalam film.”

Aku yang selama beberapa hari ini banyak membaca review film Ayat-Ayat Cinta 2 jadi tertarik untuk membaca novelnya. Dari semua review yang aku baca tentang film Ayat-Ayat Cinta 2, aku belum melihat ada yang bilang kalau film Ayat-Ayat Cinta 2 ini bagus. Banyak yang bilang ceritanya tidak masuk akal. Apakah cerita dalam novelnya sama tidak masuk akalnya dengan film yang diceritakan oleh orang-orang?

Teringat perkataan Bu Debra, aku jadi berfikir positif. Mungkin, memang ada yang tidak diungkap di filmnya tapi efeknya muncul di filmnya. Misalnya tentang betapa kaya rayanya Fachri sehingga mampu membeli rumah tetangganya dan mampu membayari guru les biola terbaik di sana untuk tetangganya yang lain. Di sebuah review film ini yang ditulis oleh seorang blogger sampai dia bertanya, “Monmaap nih kalau boleh saya tau, ini omset minimart Mas Fahri per bulan di seantero Scotland berapa, ya, Mas?”

Di novelnya diceritakan bahwa Fachri bukan hanya dosen yang punya minimarket. Beliau juga memiliki bisnis restoran dan butik. Selain itu, bila ada yang membaca novel Ayat-Ayat Cinta yang pertama, Aisha, istri Fachri yang hilang tanpa kabar di Palestina itu, mendapat warisan berupa klinik, empat swalayan di Hamburg dan Muenchen, serta pabrik farmasi di Jerman dari mendiang ibunya. Belum lagi pabrik tekstil, perusahaan travel, dan perusahaan susu di Turki. Ya bisa dikira-kira lah berapa banyak jumlah uang di tabungannya.

Kemudian dalam review film yang ditulis oleh blogger yang lainnya lagi, ada yang mempertanyakan, “Harus banget ya Fachri solat di depan kelas?

Di novelnya, adegan itu digambar kan bahwa Fachri tengah mengajar dan di tengah pelajaran masuk waktu Ashar. Fachri kemudian meminta ijin pada mahasiswanya untuk solat. Dia memberikan opsi pada mahasiswanya: mau menunggu dia jalan ke office terus dia solat di sana kemudian balik lagi atau dia diijinkan solat di kelas. Mahasiswanya mengijinkan dia untuk solat di ruangan itu. Fachri kemudian solat di pojok ruangan.

Ada banyak yang mempertanyakan mengapa Fachri dan keluarganya bisa tidak mengenali Sabina yang ternyata Aisha padahal tinggi badan, body language, dan suaranya sama. Dan Aisha dari dulu bercadar.

Dalam novelnya, Fachri sebenarnya sudah curiga-curiga gimana gitu sama Sabina karena setiap tindakannya mengingatkan Fachri pada Aisha. Namun kecurigaan itu selalu ditepisnya. Dan dalam novelnya, diceritakan bahwa pita suara Aisha rusak sehingga suaranya serak dan tidak seperti Aisha yang Fachri kenal.

Dan kalau untuk kritikan masalah tokoh, seperti Hulusi yang seharusnya orang Turki namun diperankan oleh Pandji Pragiwaksono yang wajahnya Indonesia, ya itu masalah di pemilihan pemeran film lah ya. Bukan salah ceritanya. Demikian juga dengan penggunaan bahasa Indonesia di Scotland.

Benar, sepertinya kita perlu membaca novelnya untuk mengetahui latar belakang efek yang dimunculkan di film. Tapi kalau sudah baca novelnya dan tau ceritanya, buat apa nonton filmnya? Ya, apapun alasannya lah ya.

Namun dalam novel dan film, kita disajikan menu penutup yang berbeda. Dalam film diceritakan Bachdur, penjahat di film Ayat Ayat Cinta 1 keluar dari penjara lalu mencari Fahri di Skotlandia. Dia bertemu dengan Sabina dan Hulya, yang lagi hamil, lalu tak sengaja menikam Hulya saat targetnya Sabina alias Aisyah. Bachdur ditembak mati sama polisi lalu Hulya dibawa ke rumah sakit.

Karena niqab Sabina tersingkap, Hulya sadar selama ini Sabina adalah Aisyah. Kemudian Fahri juga tau siapa Sabina sebenarnya di rumah sakit. Hulya pun tak terselamatkan namun anaknya lahir dengan selamat. Aisyah pun menjalani operasi transplantasi wajah untuk memasangkan wajah Hulya di wajahnya atas wasiat dari Hulya. Akhirnya Fahri hidup bahagia bersama Aisyah dengan anaknya dari Hulya.

Baca Juga:  Film Paling Jelek 2017

Dalam novel, Hulya memang meninggal di rumah sakit setelah setelah mengalami pendarahan karena ditikam penjahat. Namun penjahat itu bukan Bachdur yang ingin balas dendam. Penjahat itu entah siapa yang bertemu Hulya dan Keira di rest area setelah Hulya dan Keira konser bersama. Sampai akhir hayat Hulya tidak tau kalau Sabina adalah Aisha.

Hulya mewasiatkan Fachri untuk memindah wajahnya ke muka Sabina supaya Umar, anaknya, bisa terus melihat wajah ibunya. Fachri sadar kalau Sabina adalah Aisha saat dilakukan operasi, Fachri melihat tanda lahir di pundak Sabina.

Ada pelajaran penting yang aku dapat dari membaca novelnya. Yaitu bagaimana Fachri menunaikan wasiat Hulya tentang transplantasi wajahnya ke Sabina. Sebagai seorang muslim, Fachri tidak lantas mengiyakan wasiat itu. Dia bertanya pada beberapa pakar fiqh sebelum melaksanakannya. Seorang Shaikh yang ditanyai Fachri mengatakan bahwa transplantasi itu haram. Wasiat Hulya tidak perlu dilaksanakan.

Fachri lalu menghubungi Shaikh Ustman, gurunya. Shaikh Ustman menjawab, tidak ada dalil qath’i yang mengharamkan transplantasi. Jika wajah orang yang diberi donor wajah itu benar-benar rusak, ia boleh mendapat donor wajah agar bisa hidup lebih layak. Yang penting, tidak ada akad jual beli organ. Setelah itu baru Fachri menjalankan wasiat Hulya.

Fachri mencari landasan ilmu terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu. Sikap ini yang seharusnya ditiru oleh orang-orang yang suka berdebat di media online. Mencari bukti yang benar dan berita yang valid, bukan hoax, sebelum berperang kata.

Seorang kawan pernah berkata, memang sepatutnya cerita film yang diangkat dari novel agak berbeda dengan novel aslinya. Kalau dibuat sama persis, tidak akan ada kejutan dan film akan cenderung membosankan. Kalau aku pribadi, sebaiknya film dengan novelnya dibuat sama ceritanya. Supaya orang yang tidak menikmati membaca novelnya bisa suka ceritanya melalui filmnya. Yah, semua kembali ke selera masing-masing orang.

***