Fakta

Saiful Rachman “Dipermalukan” Surat Ahok ke Siswi SMAN “30” Lamongan

Dinas Pendidikan, Jawa Timur, Saiful Rachman, Ijazah, Basuki Tjahaja Purnama, Surat, Fadila Maretta, Headline
Surat Siswa SMA Jatim untuk Ahok (Foto: Tribunnews.com)
Dinas Pendidikan Jatim "dipermalukan" oleh informasi yang viral di medsos di mana Ahok menolong siswa SMA yang ijazahnya tertahan akibat tidak punya biaya.

Sejak pekan lalu media sosial dan online sekelas Kompas ramai menulis perihal “surat” atas nama Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) yang ditulis dari dalam Rutan Mako Brimob di Depok, Jawa Barat, tertanggal 12 Desember 2017 pukul 19.50 Wib.

Jika dilihat isinya, surat Ahok itu balasan untuk seorang siswi atas nama Fadila Maretta yang sambat perihal ijazahnya yang masih “ditahan” sekolahnya. “Soal ijazahmu yang nyangkut, kamu coba WA/SMS ke staf saya, namanya Natanael”.

Dalam suratnya itu Ahok juga mencantumkan nomor WA Natanael itu: 085216031888 atau 0811807669. “Mudah-mudahan bisa membantu agar kamu bisa kerja,” tulisnya. Sebelumnya, ia menyatakan pikiran serupa, “Kapan keadilan sosial dapat terwujud.”

“Saya juga sama seperti kamu pikir, kapan keadilan sosial dapat terwujud, satu-satunya harus masuk dalam sistem dan melawan pejabat korup, kita harus jadi pejabat,” begitu tulis Ahok yang merupakan nasehat almarhum ayahnya.

Surat Ahok itu telah menyedot perhatian Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur DR. Saiful Rachman. Apalagi, berita itu sempat ditulis oleh Kompas.com pada 30 Desember 2017. Bahkan, Tempo.co pada 1 Januari 2018 juga menulis hal yang sama.

Kedua media mainstream ternama tersebut menulis dengan isinya yang serupa. Disebutkan, seorang siswi yang baru saja lulus dari salah satu SMA di Lamongan, Jawa Timur, mengirimkan surat untuk mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang ditahan di Mako Brimob, Depok.

Siswi tersebut sepertinya bercerita soal ijazahnya yang tertahan karena dia belum melunasi tunggakan-tunggakan uang sekolah. Sebab, pria yang akrab disapa Ahok itu menanggapi suratnya dengan janji memberikan bantuan melalui staf pribadinya, Natanael Opusunggu.

“Anak itu mungkin lihat di medsos soal Pak Ahok banyak bantu siswa tidak mampu untuk penebusan ijazah. Dia coba tulis surat ke Mako Brimob, ditanggepin sama Bapak. Pak Ahok balas surat anak itu dan disuruh hubungi saya, saya yang akan bantu urus ijazahnya,” ujar Natanael kepada Kompas.com, Sabtu 30 Desember 2017.

Siswi tersebut benar-benar menghubungi Nael (sapaan Natanael). Nael pun baru percaya setelah siswi tersebut menunjukkan surat balasan dari Ahok yang memang mencantumkan nomornya.

Nael langsung menyuruh siswa itu untuk menghubungi pihak sekolah dan meminta rincian tagihannya. Awalnya, kepala sekolah sempat tidak percaya bahwa siswi tersebut akan dibantu oleh Ahok. Sampai akhirnya, kepala sekolah itu menghubungi Nael.

“Saya bilang ke kepseknya, Oh benar saya mau bayar, mana nomor rekeningnya? Saya minta rinciannya deh Pak, mana rinciannya biar difoto sama si anak buat bukti saya juga ke Pak Ahok,” ujar Nael.

Si kepala sekolah meminta Nael menunggu dan berjanji akan memberikan rincian dan rekening tata usaha sekolah. Namun, satu jam kemudian, siswi itu yang menelepon Nael. Siswi itu membawa kabar bahagia bahwa ijazahnya telah diberikan sebelum Nael melunasi tunggakannya.

“Kira-kira satu jam kemudian saya ditelepon sama ini anak. ‘Pak sudah beres Pak, mereka udah kasih’. Ya sudah syukurlah, foto ijazah, cap tiga jari dan videonya dia kirim ke saya,” ujar Nael.

Nael tidak tahu mengapa pihak kepala sekolah akhirnya memberikan ijazah itu begitu saja. Padahal, Nael sudah berjanji untuk melunasi tunggakan siswa di Lamongan itu dari hasil penjualan buku. Dalam kejadian ini, Nael merahasiakan nama dan sekolah siswa tersebut.

Menurut Nael, kebiasaan Ahok menebus ijazah anak-anak sekolah bukan hal yang istimewa. Sampai sekarang, dia masih sering menebus ijazah itu meski Ahok berada di penjara. Tapi, biasanya dia hanya menebus ijazah anak-anak yang bersekolah di Jakarta saja. Kejadian ini di luar kebiasaan karena siswa yang meminta bantuan itu berada di luar Jakarta.

“Pak Ahok masih punya waktu banyak lagi ya. Kalau di Jakarta sih masih oke-lah, tapi ini Lamongan. Kenal juga enggak, sekolahnya Lamongan di mananya juga enggak tahu, terus perintahnya ke saya lagi,” ujar Nael.

“Iya kalau ada yang kurang berkenan baca saja di Kompas online semua bukti saya berikan ke Kompas,” jawab Nael saat dikonfirmasi PepNews.com melalui WA-nya. Hasil telusur dari jejak digital ditemukan Natanael Oppusunggu dalam status FB-nya.

Ada seorang siswa dr SMAN 30 Lamongan menulis surat ke Ahok sebab keluarganya tidak mampu mengambil ijazah nya, karena masih tunggakan sekolah yang belum dilunasi, Ahok tidak kenal dengan anak ini, anak ini berasal dari mana pun Ahok tidak pernah tau dan tidak ada hubungan dari manapun dengan anak ini.

Tapi inilah Ahok masih seperti dahulu tidak berubah, Ahok masih mau membuang waktu untuk membalas surat orang yang tidak dikenal dan meminta bantuan. Ahok membalas surat siswa tersebut dan meminta untuk menghubungi saya dan mengatakan saya akan membantu untuk menebus ijazah nya.

Reaksi Saiful Rachman

“Saya menghormati kode etik jurnalistik merahasiakan nara sumber. Persoalan ini sudah menjadi masalah nasional. Seyogyanya disampaikan ke @dindik_jatim untuk ditindaklanjuti biar clear, polemik tidak berkepanjangan. Ini bukan soal @basuki_btp tapi juga citra @JatimProv @beginu,” tulis Saiful Rachman dalam Twitter-nya.

Sebelumnya, melalui akun FB-nya, Saiful Rachman mengungkapkan, ia banyak menerima pesan baik di FB, Twitter maupun WA, terkait siswa SMAN Lamongan yang ditulis dalam berita itu, SMAN 30 Lamongan meminta bantuan ke Ahok. “Saya pastikan bahwa di Jatim khususnya di Lamongan tidak ada SMAN 30 Lamongan,” tulisnya.

Baca Juga:  Saiful Rachman, Calon Terkuat untuk Dampingi Khofifah

Jika dalam surat disebutkan bahwa karena tidak adanya biaya dalam mengambil ijazah, kata Saiful Rachman, harus klarifikasi surat itu tertanggal kapan yang ditujukan ke Ahok, karena kali ini masa liburan dan juga belum UNBK. Agar memudahkan jajaran mengecek kebenaran alamat serta itu.

Selain itu, jika keluhannya soal biaya Tahun 2017, pengambilan ijazah tidak dipungut biaya atau gratis. “Dan jika siswa itu warga miskin di Jatim dibebaskan dari segala pungutan, dan pihak sekolah pasti mengetahui kondisi siswa tersebut,” ungkapnya.

“Bila ada surat yang ditujukan secara pribadi ke Ahok seyogyanya disampaikan ke Dinas Pendidikan Jatim, sebab pengelolaan SMA dan SMK di bawah Pemprov Jatim, sehingga bisa diambil langkah,” lanjutnya.

Dinas Pendidikan akan dan usut kebenaran surat itu yang ditujukan ke Ahok. Sebab, jangan sampai dipolitisisasi untuk popularitas seseorang. “Sejak awal saya komitmen Pendidikan di Jatim steril dari kepentingan politik,” tegas Saiful Rachman.

“Mengakhiri penjelasan saya. Saya tegaskan kembali: 1. Di Jatim tidak ada SMAN 30 Lamongan; 2. Pengambilan ijazah tidak dipungut biaya; 3. Siswa miskin mendapat bantuan Pemprov Jatim. Saya mohon Ahok untuk klarifikasi kebenaran surat itu ke Dinas Pendidikan Jatim,” tulis Saiful Rachman.

Menyusul viralnya “balasan” surat Ahok sejak 30 Desember 2017 itu, Saiful Rachman lantas mengecek perihal keluhan Fadila Maretta ini. Menurut Kepala SMAN 3 Lamongan Wiyono mengakui, nama yang ditulis dalam surat Ahok itu adalah siswinya.

“Memang siswi saya, angkatan (alumni) 2016/2017,” ujar Wiyono ditemui di kantor UPT Dinas Pendidikan Provinsi Jatim cabang Lamongan, Jalan Kombes Pol M Duryat, Selasa 2 januari 2018, seperti dilansir Kompas.com.

Saiful Rachman, Pilkada Jatim 2018, Sosok, Headline, Khofifah Indar Parawansa
Saiful Rachman (Foto: Malangvoice.com)

Menurutnya, setelah ujian, baru pertama kali datang saat itu saja, pada 28 (Desember). “Dia datang bersama walinya (kakak), dan bilang menang lomba puisi Ahok,” jelasnya. Terkait tertahannya ijazah Fadila Maretta, Wiyono memberikan klarifikasi.

Sekolah tak berniat menahan ijazah siswa-siswinya, meski mereka masih memiliki tunggakan kepada sekolah. “Tidak ada niatan dari kami untuk menahan ijazah siswa. Saya nggak pernah seperti itu. Hanya memang tidak bisa diwakilkan dan harus anaknya sendiri yang ambil,” ujar Wiyono.

Selain Fadila Maretta, ternyata masih ada 10 siswa yang belum mengambil ijazahnya sampai sekarang. Wiyono bakal memberlakukan hal yang sama, karena Dinas Pendidikan Jatim telah menyatakan bila pengambilan ijazah bersifat gratis.

“Siswa yang belum ambil ada 11 (termasuk Fadila Maretta). Tapi, kan anaknya harus cap tiga jari, jadi enggak bisa diwakilkan. Harus anaknya langsung yang datang, akan saya berikan,” katanya.

Penjelasan lebih rinci diberikan Saiful Rachman yang disebut-sebut sebagai bacawagub untuk Yenny Wahid dalam Pilkada Jatim 2018 nanti. Fadila Maretta tidak pernah datang ke sekolah sejak kelulusan dan baru datang pada 28 Desember 2017 pukul 08.30 WIB.

Bahwa Kepala Sekolah tidak pernah merasa ditelepon atau berbicara melalui telepon dengan seseorang yang mengatasnamakan kepercayaan @basuki_btp bernama Natanael Opusunggu sebagaimana pengakuan dia di media massa dan media sosial.

Penyerahan ijazah berlangsung singkat, tidak lebih dari 20 menit, karena dianggap tidak ada masalah dan tidak perlu harus membayar apapun untuk sekolah. Sebab, memang sejak awal ada ketentuan pengambilan ijazah gratis.

Catatan @dindik_jatim bahwa kasus ini menjadi viral tanggal 30 Desember 2017 sementara penyerahan ijazah 28 Desember 2017. Artinya, “Ijazah diberikan sebelum kasus ini muncul ke permukaan. Bila sekolah menyerahkan saat ramai, akan muncul dugaan rekayasa.”

“Ini yang saya hindari. Kedatangan menyampaikan bahwa dirinya menjadi pemenang lomba menulis puisi untuk @basuki_btp. Dan tidak pernah menyatakan bahwa dirinya menulis surat ke @basuki_btp. Sekolah sama sekali tidak menahan ijazah milik Fadila sebagaimana yang diberitakan di media massa dan media sosial,” tegas Saiful Rachman.

Dalam kasus Fadila Maretta ini, seharusnya media sekelas Kompas.com berupaya melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada sekolah atau instansi terkait. Apapun hasilnya, setidaknya sebagai media ternama, Kompas.com sudah ngecek kebenarannya.

***

Editor: Pepih Nugraha