Wacana

Jerusalem dan “Two State Solution”, Jangan Buru-buru Marah Besar!

Pengakuan, Ibukota, Jerusalem, Israel, Headline, Donald Trump
Trump di Tembok Ratapan (Foto: Liputan6.com)
D luar Trump itu politisi, ia juga seorang pebisnis di mana berbohong itu bagian dari strategi untung rugi yang terukur. Jadi, ke depankan saja dialog.

Bila saja Gus Dur taksih sugeng, masih hidup, seraya tetap menjaga pikiran dan sikap jernihnya, tentu saja ia akan menjadi seorang yang paling bisa menjelaskan, situasinya dengan lebih tenang, menyenangkan dan memberikan harapan baik. Karena ini mungkin akan sangat berbeda, dengan cara pandang sebagian besar rakyat Indonesia yang mendukung Palestina secara membabi buta: bebaskan Palestina, lenyapkan Israel!

Pada tahun 1994 Gus Dur dan beberapa orang temannya diundang oleh Perdana Menteri Israel, Yitzhak Rabin, menyaksikan penandatanganan perjanjian damai antara Israel dan Jordania. Djohan Effendi menulis bahwa ketika berkunjung ke Israel Gus Dur menyempatkan diri bertemu dengan sejumlah warga Israel baik dari kalangan orang-orang Yahudi maupun kalangan orang-orang Arab Muslim dan Kristen.

Gus Dur merasakan adanya hasrat damai yang kuat dari warga Israel, bahkan mereka mengatakan kepada almarhum Gus Dur: “Hanya mereka yang berada dalam keadaan perang yang bisa merasakan apa makna kata damai”.

Baca Juga:  Donald Trump Cemas atas Bersatunya Fatah dan Hamas

Setelah mendengar curahan hati rakyat Israel ini Gus Dur menjadi tersentuh dan tergerak nuraninya untuk mewujudkan perdamaian antara Israel dan Palestina secara jujur dan adil dengan mengedepankan win-win solution.

Secara sederhana, konflik Israel-Palestina terjadi karena dua orang saling berebut sebuah wilayah. Kemudian, jadi lebih rumit karena keberadaan Palestina sebagai suatu negara berdaulat dianggap mengancam oleh Israel dan begitu juga sebaliknya. Konflik keduanya melahirkan kekerasan yang berlangsung bertahun-tahun.

Kemudian, Israel juga secara sepihak menduduki wilayah Tepi Barat dan memblokade Gaza,di mana banyak warga Palestina di sana. Selama ini, jalan keluar untuk konflik Israel-Palestina yang paling memperoleh banyak dukungan adalah two-state solution, termasuk oleh Amerika Serikat dan PBB.

Pada dasarnya, two-state solution berarti Israel dan Palestina bisa berdiri sebagai negara berdaulat dan saling berdampingan. Artinya, masing-masing orang mendapatkan satu negara.

Mereka yang mendukung two-state solution melihat kemenangan untuk dua pihak yang berkonflik tanpa saling menghancurkan: Israel tetap menjadi negara Yahudi yang demokratis dan Palestina memiliki wilayahnya sendiri yang berdaulat.

Keputusan Trump untuk mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel seolah mengakhiri harapan diadopsinya two-state solution, dimana semestinya, minimal Jerusalem sebagai kota suci tiga agama besar dunia dijadikan wilayah yang netral.

Lalu kenapa Trump sedemikian gegabah?

Gegabah itu ‘kan istilah kita yang suka heboh! Bagi dia ini adalah bagian dari memenuhi janji kampanye politik kepada para pendukungnya di dalam negeri, khususnya Yahudi Amerika pro-Israel dan kelompok Kristen Evangelis yang merupakan basis massa politisnya. Setelah tiga presiden AS sebelumnya memberikan janji yang sama, tapi tidak mau menepatinya, ia ingin menjadi “Presiden AS yang Lain”.

Apakah ia tidak memepertimbangkan reaksi negara Arab? Di sinilah justru, sebenarnya mata publik Indonesia harus mulai terbuka!

Arab Saudi dan Jordania yang selama ini dianggap sebagai penjaga situs suci Islam, telah mengeluarkan peringatan bahwa langkah ini bisa membuat marah dunia Islam. Artinya ia hanya sebatas “mengkhawatirkan”, sebab revolusi Arab kini telah memindahkan prioritasnya dari isu Palestina ke isu soal Iran, terutama di kalangan negara-negara Teluk. Karena itu mereka telah membentuk kerja sama intelijen diam-diam dengan Israel, dan membutuhkan Trump.

Jika pemimpin Arab mengeluarkan banyak pertanyaan soal Jerusalem tapi tak mengambil aksi apa-apa, ini menjadi bukti bahwa ada Timur Tengah yang baru.

Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan pada apakah ibu kota Israel adalah Jerusalem Barat, tapi apakah Jerusalem Timur yang diduduki Israel akan menjadi ibu kota negara Palestina. Trump membuka kemungkinan itu dengan mengatakan bahwa pemerintahnya tidak mengambil posisi final mengenai status kota suci, “termasuk soal batasan spesifik akan kedaulatan Israel di Jerusalem, atau resolusi dari perbatasan yang diperdebatkan”.

Baca Juga:  Setelah Amerika Serikat Akui Jerusalem Sebagai Ibukota Israel

Ini mengindikasikan bahwa klaim Palestina terhadap Jerusalem Timur akan tetap ada dalam agenda negosiasi. Artinya, mungkin ini juga bagian dari babak baru two state solution yang lebih baru. Jangan-jangan kehebohan ini, hanya karena kehilangan nuansa penekanan istilah Barat dan Timur saja, dalam konteks Jerusalem.

Di mana-mana batas-batasnya masih menjadi pekerjaan rumah semua pihak, pun bagian yang paling sucinya sebagai wilayah yang netral. Mungkin fenomena Trump ini meniru apa yang juga terjadi pada Yudhistira saat ditanya Pendita Dorna yang tak kunjung bisa dibunuh dalam Perang Bharatayudha, apakah benar Aswatama anaknya telah mati dibunuh. Ya telah mati, tapi Aswatama gajah!

Jangan lupa di luar Trump itu politisi, ia seorang pebisnis, di mana berbohong itu bagian dari strategi untung rugi yang terukur!

Jadi gak usah buru-buru marah besar dulu, ditunggu dengan sabar dulu sambil ngopi-ngopi. Gak usah pada ngasah pedang dulu. Kedepankan dialog, karena semua juga butuh solusi, itu perlu waktu. Apalagi damai itu indah!

***