Fakta Memorabilia

Denny Siregar, TV One, Media Sosial dan Politik

Debat, Publik, Televisi, Denny Siregar, ILC, Karni Ilyas, Headline
Denny Siregar (Foto: Mediaindonesia)
Mahir merangkai kata di medsos tidak selalu berbanding lurus dengan bicara langsung di televisi. Perlu jam terbang tinggi untuk diskusi di depan publik.

Ramai setelah acara ILC di mana DS dan AJ seolah dikuliti oleh gerombolan ES dan FS serta kembar siam FZ dan FH. Seolah terjadi menang telak dari pasukan khilafah diperang badar.

DS dan AJ dua sosok anak muda penggiat medsos dengan tulisan yang mencerahkan dan memotivasi banyak anak muda menuju proses perbaikan agar membiasakan kebaikan. Dua motivator ini adalah termasuk Indonesia ke depan, Indonesia tidak boleh diambil oleh gerombolan pemangsa peradaban.

Persoalan di ILC seolah menjadi “the killing field” bagi kedua manusia berpotensi ini tidak terlalu penting, karena esensi keperpihakan kita kepada kebaikan tidak boleh disurutkan oleh mulut menang-menangan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Baca Juga:  Senyum Koruptor di Koran dan Televisi

Sementara bonus yang kita terima dari acara yang menjadikan DS dan AJ dijadikan ayam sayur adalah, bahwa makin jelas siapa gerombolan itu. Tulang putihnya menyeruak dari daging dan kulitnya, bahwa mereka termasuk penggerak dibentuknya sistim khilafah di Indonesia. Bila kita sepakat khilafah haram di Indonesia, maka gerombolan manusia murah di dalamnya juga haram berada di Indonesia, hanya bagaimana kita bisa menyamaknya.

Menulis di medsos adalah pekerjaan sepihak karena tidak berhadapan dengan mulut orang di depan kita, sehingga dibutuhkan kepiawaian untuk menjawab dan bertanya, saat acara debat dan sejenisnya, jujur mungkin DS dan AJ masih kurang jam terbangnya dan pada acara itu sebenarnya mereka dikeroyok oleh pasukan lawan sekaligus oleh TV One.

Amati pertanyaan-pertanyaan Karni dalam alur diskusi itu, dia tendensius, dan kita tau siapa dia, sejak PS batal sujud di Pilpres 2014, TV ini menjadi tidak netral dalam mengemas beritanya yang menyangkut pemerintahan JKW.

Pak Mahfud sebagai penyelamat dan sekaligus membantai konsep khilafah menjadi kelihatan mentah untuk bisa menggantikan Pancasila, inilah deep closed acara itu.

DS dalam balasannya masih terasa kurang bisa menerima komentar Pak Mahfud menjadi salah gaya, DS tidak perlu mengatakan bahwa Pak Mahfud enak karena berkomentar di ujung acara, mau di ujung mau di awal kalau ilmunya dangkal ya pasti mental. Jadi saya pikir harus diterima secara rasional jangan dengan rasa kesal.

DS harus piawai mengatur hati, sepiawai tulisannya yang menyemangati, ngapain juga gerombolan perusak ketentraman diambil hati karena bila salah menyikapi kita rugi sendiri. Indonesia butuh DS bukan ES.

Tidak perlu memberi 5 bintang kepada Denny karena dia memang bintang sejati, beda dengan yang sono.

Hayuk perbanyak Denny-Denny yang lain, jangan berhenti karena dikerjai Karni. Indonesia adalah masa depan, ILC cuma kejar rating dan setoran.

***