Wacana

Sekali Lagi, Kekuatan Negara Diuji Melalui Kasus Setya Novanto

Sosok, Politikus, Setya Novanto, KPK, Opini, Headline, KTP Elektronik
Setya Novanto (Foto: Kompas.com)
"Kesaktian" Setya Novanto akan segera berakhir saat KPK sudah siap dengan berkas perkara (P21) yang berarti Praperadilan sudah tidak diperlukan lagi.

Drama di negeri ini seperti tak ada habis-habisnya. Kasus korupsi terus beruntun terjadi dan menghiasi seluruh berita. Walaupun Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan KPK gencar dilakukan, namun tampaknya tak menurunkan nyali banyak pejabat dan pengusaha hitam untuk menjarah uang pajak rakyat.

Cita-cita proklamasi untuk “memajukan kesejahteraan umum,” nampaknya terus dibajak oleh ketamakan para elit yang tak henti- hentinya mencari celah menumpuk kekayaan tanpa batas, walau dengan jalan haram sekalipun.

Peringatan Tuhan dalam kitab suci jelas tak bermakna sama sekali di benak para penumpuk harta haram ini. “Al-haakumut-takaatsur, Hatta zurtumul maqaabir; Bermegah-megahan telah membuat diri kalian terlena sampai kalian terjerumus ke liang kubur.” Betul-betul mabuk tak kepalang!

Baca Juga:  Terhadap "Trik" Sakitnya Setya, KPK Membalas dengan "Trik" P21

Ibarat ceritera film kolosal, sekali lagi kali ini, jutaan pasang mata rakyat menonton adegan seru. Ibaratnya menonton puncak adegan perburuan salah satu “tokoh penjahat utama” dalam ceritera film. Kebetulan untuk kali ini, tokoh itu bernama Setya Novanto, atau sering disingkat SN. Ceritera menjadi lebih seru karena ada persepsi yang sudah tertanam dalam kepala penonton bahwa tokoh ini memiliki kesaktian luar biasa.

Ia tak hanya dikenal memiliki jaringan luas, uang tak terbatas dan jabatan puncak, namun juga memiliki kecerdikan luar biasa. Apa buktinya? Orang selalu ingat bahwa tokoh ini sudah terbukti dengan mudah lolos dalam berbagai kasus yang hendak menjeratnya.

Coba kita flashback. Masih ingat kasus hak tagih piutang Bank Bali? Atau kasus beras impor dari Vietnam, kasus PON Riau, kasus suap ketua MK Akil Mochtar, kasus “Papa Minta Saham”, dan entah kasus apa lagi yang mengaitkan nama SN? Semua lolos, alias “bablas angine”!

Nah, kali ini, dalam kaitan kasus e-KTP, lagi-lagi SN juga telah membuktikan kesaktiannya. Saat dijerat sebagai tersangka pertama kali, ia dengan mudah lolos dalam praperadilan. Setelah itu, melalui pengacaranya, ia terlihat begitu piawai menyusun argumen, bermain dengan pasal, dan memutarbalikkan logika untuk melindungi diri dari jeratan KPK menjadikannya kembali sebagai tersangka.

Saat KPK memanggil SN untuk hadir dalam persidangan, dengan berani dan cerdik alasan dikemukakan untuk menolak pemanggilan. Dan akhirnya, rakyat seperti dipaksa bergadang untuk melihat adegan saat KPK berupaya melakukan jemput paksa SN di rumahnya di Jalan Brawijaya.

Aha… apa yang terjadi? Sekali lagi, SN membutikan diri bahwa ia memang sakti. Penyidik KPK terkecoh. Beberapa jam sebelum KPK datang, konon ada “tamu” yang lebih dulu menjemputnya dan diduga telah mengamankannya. Padahal, aksi jemput paksa KPK dilakukan “full team” dengan didukung pengamanan ratusan polisi.

Baca Juga:  Setya Novanto dan Jam Tangan Richard Mille Seharga Rp1,3 Miliar

Siapa bermain? Siapa berada di balik “tamu” yang konon mendahului KPK menjemput SN? Ini misteri yang menjadi bumbu ceritera dalam episode berikutnya. Sekali lagi ini bukti SN memang sakti.

Namun, tanpa disadari, apa yang terjadi ini adalah pertunjukan yang memperlihatkan pertempuran kekuatan antara SN beserta seluruh jaringannya dalam melawan negara. SN adalah simbol oligarki kekuatan politik yang dalam persepsi publik, bisa jadi, mewakili simbol utama rejim politik piawai, cerdik dan sakti, walau pun sarat dengan beragam masalah.

Inikah peristiwa yang akan menjadi penanda utama era kehancuran kepercayaan publik pada para tokoh elit politik negeri saat ini? Entahlah.

Dengan hati berdebar, pasti banyak yang menunggu hasil akhir pertunjukan ini. Apakah negara dalam menghadapi pertempuran ini akan menang? Apakah KPK dan seluruh penegak hukum akan bertekuk lutut dalam menghadapi rintangan proses penegakan hukum ini?

Sungguh, dalam pertunjukan kali ini, yang sedang diuji adalah kekuatan negara. Kali ini, rakyat hanya bisa menonton, dan memberi ruang pada mesin negara bekerja karena rakyat masih merasa belum perlu turun langsung mengatasi kemelut ini.

Semoga saja kekuatan bersih yang akan memenangkannya. Semoga saja bangsa ini mampu menunjukkan kekuatan sebenarnya.

***