Wacana

Belajar dari Libya

Libya, Moammar Khadafy, Pengungsi, Radikalisme, Terorisme, ISIS, Khilafah, Negara, Headline, Islam
Moammar Khadafy (Foto: Chronocle.co.zw)
Kaum ekstrimis radikalis itu ada yang membentuk atas kepentingan gelap dari keinginan merebut kekuasaan dengan cara jahat, maka tetap harus waspada.

Mereka yang skeptis bangkitnya radikalisme, mungkin kelak menjadi orang paling awal mengungsi untuk menyelamatkan diri dan menjadi pengemis di negeri orang -atau mungkin orang yang pertama kali digantung/dipenggal di sudut sudut kota yang sudah hancur- jika radikalisme telah meluluh lantakan negara.

Sebelum perang saudara tahun 2011, Libya adalah negara kaya raya, negara terbesar ke-4 di Afrika ini adalah satu satunya negara maju di benua Afrika. Libya menjamin pendidikan gratis, beasiswa ke luar negri, kesehatan geratis, tunjangan ibu hamil dan melahirkan, apartemen gratis, listrik dan air gratis, bantuan uang pernikahan, bank tanpa bunga, bantuan pangan dan bagi hasil dari ke untungan minyak untuk rakyatnya -tengok lah sekarang Libya seperti apa?

Pengungsi Libta (Foto: Voaindonesia.com)
Pengungsi Libta (Foto: Voaindonesia.com)

Penyesalan rakyatnya sudah tidak ada arti apa apa. Libya saat ini termasuk negara gagal di dunia, rakyatnya kelaparan, berbondong-bondong meninggalkan negerinya dan memilih jadi pengemis di negeri orang, jadi pelacur atau bahkan budak yang dipekerjakan secara ilegal. Semua pekerjaan hina itu menjadi sangat mewah dibanding kelaparan di negerinya atau mati mengambang di lautan Mediterania, kabar terahir pengungsi yang mati mengambang sudah mencapai 4.000 orang lebih. Tidak ada harga diri, kehormatan bahkan ibadah untuk mendirikan solat pun susah.

Eropa Barat dan Eropa Timur kini menutup rapat-rapat pintu negerinya dari pengungsi Libya, dan rakyat Libya mati sia-sia di hempas ombak lautan Mediterania. Ada bayi, jompo, pemuda, juga anak gadis yang mati tercecer, tak ada upacara, tak ada tabur bunga, rakyat yang kehilangan negara adalah manusia yang kehilangan segalanya. Semua bencana itu karena kaum fundamentalis ISIS, Al Qaida… dan entah apa lagi namanya, tapi mereka adalah kaum perusak yang menamakan dirinya jihadis.

Apakah Moammar Qadafi jauh dari agama sehingga dibenci radikalis agama seperti ISIS, Al Qaeda berikut francise-nya di indonesia? Beliau bahkan satu-satunya Presiden di dunia Islam yang masih menjadi khatib jumat di Tripoli, masih menjadi imam saat solat ied, dan kadang menjadi imam solat berjamaah lainya.

Jangan percaya ektrimis radikalis muncul dari kemiskinan dan kesenjangan sosial, Libya sangat makmur dan relatif merata, tapi apa yang terjadi? Jangan percaya slogan agama yang di jajakan para pencari kekuasaan, ISIS konon ingin mendirikan kekhalifahan yang islami, tapi entah berapa kepala yang dipenggal sia sia tanpa alasan jelas.

Baca Juga:  Benny Moerdani dan Perjuangan Awal Gerakan Radikal Islam

Kaum ekstrimis radikalis itu ada yang membentuk atas kepentingan gelap dari keinginan merebut kekuasaan dengan cara jahat. Jangan percaya dengan lantunan ayat dan nukilan hadits yang mereka utarakan dengan seluruh tafsirnya, semua itu dipelajari hanya untuk merusak sendi-sendi negara juga agama!

Siapapun yang ingin mengubah sendi-sendi kebangsaan dan berkeinginan menggantinya dengan syariat atau khalifah, semua itu Bulshit….!! Agama hanya dijadikan sebagai alat muslihat bagi mereka yang terpedaya.

Jagalah neegri ini, karena gerakannya sudah bisa diraba dan dirasakan -keberingasanya membuat kita tidak kenal siapa sesungguhnya mereka…?

Tugas deradikalisasi bukan saja tugas Negara, Banser dan NU, tapi tugas siapapun yang mencintai negerinya.

***