Fakta

Pertarungan KAHMI versus IKAPMII di Pilkada Jatim

KAHMI, IKAPMII, Pilkada Jatim 2018, Politik, Jawa Timur, Headline,
Gus Ipul dan Khofifah (Foto: Beritasatu.com)
Dua organisasi mahasiswa "beda kelamin" akan bertarung di Pilkada Jatim. Gus Ipul-Azwar Anas anggota KAHMI sedangkan Khofifah anggota IKAPMII. Siapa menang?

Pertarungan antara pasangan Saifullah Yusuf alias Gus Ipul dan Abdullah Azwar Anas dalam gelaran Pilkada Jatim 2018 mendatang melawan Khofifah Indar Parawansa sebagai bakal calon gubernur Jatim di lain pihak, sejatinya persaingan antara KAHMI dan IKAPMII.

Karena, Gus Ipul-Azwar Anas adalah anggota Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), sedangkan Khofifah anggota Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKAPMII). Cobalah tengok catatan organisasinya.

Gus Ipul pernah menjadi Ketua Sema Fisip UNAS Jakarta 1988-1990; Ketua HMI Cabang Jakarta 1990-1992; Pengurus Pusat IPNU 1992-1994; Ketua Pimpinan Pusat IPNU 1990-1995; Wakil Sekjend PP GP Ansor 1995; Sekretaris Jendral AMNU.

Ia juga pernah menjabat Sekretaris Jendral DPP Partai Kebangkitan Bangsa 2002-2004; Ketua Umum PP GP Ansor 2000-2005; Dan, sejak 2008, jabatan politisnya terpilih sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur, mendampingi Gubernur Soekarwo.

Setelah selesai menjalankan tugasnya sebagai Ketua Umum PP GP Ansor, ia terpilih menjadi salah satu Ketua di PBNU di bawah kepemimpinan KH Said Aqil Siraj. Pada Pemilu 1999, ia menjadi anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Baca Juga:  Pertama Kalinya, Khofifah dan Calon Pasangannya Tampil Bersama

Gus Ipul dianggap sebagai lambang aliansi dari Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dengan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum DPP PDIP, karena ia adalah orang kepercayaan Gus Dur dan ditempatkan di PDIP. Ketika hubungan Gus Dur-Megawati merenggang maka pada 2001, Gus Ipul mengundurkan diri dari PDIP dan DPR kemudian bergabung dengan PKB.

Akan halnya Azwar Anas memang tidak pernah “dicatat” sebagai anggota HMI. Namun, dari aktivitasnya sebagai Bupati Banyuwangi, tampak sekali kedekatannya dengan KAHMI. Saat pasangan Gus Ipul-Azwar Anas ditetapkan sebagai pasangan bacagub-bacawagub Jatim dari PDIP dan PKB, Komunitas Gesah Reboan KAHMI Banyuwangi, langsung tumpengan.

Mereka menggelar tumpengan dan doa bersama. Ada yang unik, dua tumpeng yang disajikan memiliki warna berbeda. Sesuai dengan warna bendera partai pengusung kandidat ini. Yakni warna hijau PKB dan tumpeng merah untuk melambangkan PDIP.

“Ini kita lakukan sebagai wujud syukur dan turut berbahagia, Bupati kami (Anas), dipercaya menjadi pasangan Cagub Gus Ipul dalam Pilgub Jatim 2018 mendatang. Kami sangat bangga dan berharap pasangan Gus Ipul-Anas bisa menang mutlak,” ungkap Koordinator Komunitas Gesah Reboan KAHMI Banyuwangi Zamroni, Rabu (18/10/2017).

Hadir sebagai pembaca doa, sesepuh KAHMI Bumi Blambangan yang juga Ketua Dewan Penasehat Komunitas Gesah Reboan H. Abah Nur Hidayat. Ada juga tokoh-tokoh KAHMI seperti Eko Suryono, M As’ad Nagib, Hosen, Hamzah, dan Mandiri Ratu Warang Agung.

Baca Juga:  Gus Sholah: Mungkin Hobinya Gus Ipul Pindah Partai

Dalam Pilkada Jatim 2018 nanti, Gus Ipul-Azwar Anas sebagai “wakil” KAHMI berhadapan dengan Khofifah, mantan aktivis PMII Kota Surabaya. Dua “kubu” yang sama-sama dari NU ini akan berebut suara nahdliyin. Duel “politik” ini jadinya: 2 lawan 1.

Sebagai sesama warga NU, tentunya mereka bertiga akan berebut “kue” yang sama. Inilah yang tidak dipikirkan oleh Gus Ipul-Azwar Anas. Artinya, masih ada suara lain yang belum tersentuh, meskipun pasangan ini diusung oleh PDIP dan PKB.

Oleh massa PDIP di akar rumput, keduanya belum “mewakili” PDIP, karena masih dianggap sebagai “orang” PKB dan NU. Bahkan, ulama NU sendiri belum tentu mendukung pasangan ini. Sejumlah kiai sepuh di Banyuwangi malah mendukung Khofifah.

“Meski saya dari Banyuwangi, saya memilih untuk mendukung Ibu Khofifah,” kata pengasuh pesantren Mansyaul Huda Banyuwangi KH Suyuti Toha, kepada wartawan di Jombang pada pertengahan Oktober 2017 lalu, usai pertemuan di Ponpes Tebuireng.

Menurut salah satu kiai sepuh yang dihormati dan disegani di Banyuwangi itu, Khofifah lebih bisa dipercaya dan punya kemampuan yang lebih baik dibanding pasangan Gus Ipul-Azwar Anas. Ia menyitir sebuah hadits Nabi Muhammad tentang prinsip dalam memilih pemimpin.

“Saya memegang hadits Rasul (Muhammad) yang artinya barangsiapa menjadikan seseorang sebagai pemimpin padahal dia tahu ada yang lebih baik, maka akan dilaknat Allah,” katanya. Berpegang pada hadits tersebut, ia pun lebih memilih Khofifah.

“Karena ada salah satu dari dua sisi ini, saya condong ke ibu Khofifah,” katanya. Khofifah, Gus Ipul, dan Azwar Anas kader NU. Ia masih menjabat Ketua Umum PP Muslimat NU, sedangkan Gus Ipul pernah jadi Ketua Umum GP Ansor, dan Azwar Anas pernah menjabat Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

Mantan Ketua PW GP Ansor dan PKB Jatim Choirul Anam mengatakan, banyak kader NU, tapi hanya “kader NU tulen” yang harus didukung. Dari tiga kandidat yang muncul tersebut, hanya Khofifah yang dilihatnya masih kader asli NU.

Pengabdian Khofifah di NU mulai jadi aktivis Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU),  di Fatayat NU, PMII hingga kini menjadi Ketua Umum PP Muslimat NU. “Dalam berpolitik, Khofifah tak pernah keluar dari garis NU,” ujar Anam.

Khofifah mulai menyita panggung politik tanah air setelah sosoknya tampil membacakan pidato pernyataan sikap Fraksi Persatuan Pembangunan (FPP) dalam Sidang Umum MPR 1998 silam. Pidatonya itu menjadi pidato kritis pertama terhadap pelaksanaan Orde Baru dalam ajang formal nasional setingkat Sidang Umum MPR.

Tak pelak lagi, segenap anggota MPR, pada saat itu didominasi Fraksi Karya Pembangunan (Golkar), Fraksi ABRI, dan Fraksi Utusan Golongan, dibuat terperanjat dengan pidato yang menohok jantung para penguasa Orde Baru tersebut.

Bukan hanya kritik, aktivis organisasi ini juga menyampaikan berbagai kekurangan, dan kecurangan Pemilu 1997 seraya melengkapi pidato dengan berbagai ide tentang demokrasi.

Keberanian dan kecerdasannya dalam menghadirkan kritik terhadap pelaksanaan rezim Orba yang tengah berkuasa ini sekaligus menjadikan sosoknya sebagai politikus yang disegani di tanah air.

Ibu 4 anak ini terpilih sebagai anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) periode 1992-1998. Tapi, perubahan peta politik pasca lengsernya rezim Orba membuatnya keluar dari PPP dan hijrah ke PKB.

Pada periode 1998-2000, Khofifah kembali duduk di DPR sebagai wakil PKB. Sosok alumni Pascasarjana FISIP UI ini kembali menunjukkan kiprahnya setelah dilantik sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.

Pada awal 2013, nama mantan Kepala BKKBN periode 1999-2001 ini kembali muncul dalam kancah politik nasional Indonesia saat maju dalam pemilihan Gubernur Jatim pada 2008 dan 2013, namun “dikalahkan” pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf.

Ketika “kubu” KAHMI dengan IKAPMII bersaing untuk berebut pengaruh, rupanya masih ada kelompok lain yang ingin menjadi “king maker” diantara kedua kubu tersebut. Yakni: Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PAGMNI).

Soekarwo selaku Ketua Dewan Pertimbangan Dewan Pengurus Pusat/DPP PAGMNI yang selama ini menjabat Gubernur Jawa Timur tampaknya ingin tetap jadi king maker di Pilkada Jatim 2018. Beberapa nama bacawagub dari bupati dan mantan bupati pun “ditawarkan” untuk Khofifah.

Di sinilah ketelitian dan kecerdasan Khofifah dituntut kembali. Sehingga, tidak begitu dengan mudahnya menerima tawaran bacawagub dari Soekarwo. Istilah “telitilah sebelum membeli” juga perlu dilakukan oleh Khofifah sebelum memilih bacawagub untuk dirinya sendiri.

***