Fakta

Ananda Yang Mengaku Sudah “Move On” dan Kesaksian Seorang Peserta

Ananda Sukarlan, Anies Baswedan, Walk Out, Kolese kanisius, Headline
Ananda Sukarlan (Foto: Tirto.id)
Ananda Sukarlan tidak menjawab pertanyaan yang diajukan PepNews.com dengan alasan sudah "move on". Pengakuan itu disampaikan kepada seorang rekannya.

Tulisan yang pertama muncul di PepNews.com sebelum kemudian ramai diberitakan media massa online mengenai “Walk Out”-nya pianis sekaligus komponis Ananda Sukarlan saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berpidato, menjadi perbincangan pengguna media sosial. Ananda sendiri kepada sejumlah media online mengaku telah melakukan “Walk Out”.

Di luar dugaan, sikap Ananda Sukarlan ini menjadi “back fire” baginya. Ini karena banyak pendukung Anies Baswedan yang justru menyudutkan Ananda sebagai “kekanak-kanakan” atau bahkan ada yang mengatakan Ananda belum “move on” atas kekalahan Basuki Tjahaja Purnama pada Pilkada DKI Jakarta lalu. Ananda adalah pendukung Ahok, panggilan akrab Basuki yang kalah oleh pasangan Anies-Sandiaga Uno.

Namun kepada seorang sahabatnya, Abi Hasantoso, melalui pesan Facebeook, Ananda mengaku sudah “move on”.

“Mas, aku tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan lagi. Sudah move on, Mas.”

PepNews.com mengirimkan beberapa pertanyaan melalui Messenger Facebook Ananda Sukarlan sekaligus Abi sebagai rekannya. Pertanyaan tidak dibalas oleh Ananda, namun kepada Abi, menanggapi pertanyaan yang diajukan, Ananda berkomentar singkat bahwa dirinya tidak lagi menjawab pertanyaan karena sudah “move on” tadi.

Adapun pertanyaan yang diajukan PepNews.com kepada Ananda sebagai berikut;

    1. Apa yang sebenarnya terjadi pada saat peringatan 90 tahun Kolese Kanisius menurut pandangan Anda?
    2. Benarkah Anda melakukan “Walk Out” saat itu yang kemudian diikuti peserta lain, baru kemudian peserta kembali datang saat Anies Baswedan turun panggung selesai memberi sambutan?
    3. Apakah sudah direncanakan sejak awal (diskenario) bahwa Anda akan memberi sambutan dan menyayangkan Panitia yang telah memberi kesempatan kepada Anies untuk berpidato?
    4. Apakah yang Anda lakukan itu murni dari hati nurani dan tidak ada muatan politisnya dan apa indikasinya jika itu murni dari hati nurani?
    5. Apa pandangan Anda mengenai kemanangan Anies-Sandiaga di Pilkada DKI Jakarta?
    6. Apakah Anda tidak mengakui kemenangan Anies-Sandiaga dan karenanya tidak mengakui mereka sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur?
    7. Apakah yang Anda kecewakan atas kemenangan Anies-Sandi?
    8. Sebagai pendukung Ahok, apa harapan Anda mengenai Ahok dan kota Jakarta secara keseluruhan di bawah kepemimpinan Anies-Sandiaga?
Baca Juga:  Antara Presiden Soekarno dan Putri yang Tertukar

Meski pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan maksud meminta klarifikasi tidak berjawab, setidaknya Ananda sudah “menjawab” pertanyaan PepNews.com melalui Abi Hasantoso.

Bagaimana duduknya perkara yang menimpa Ananda Sukarlan dan Anies Baswedan yang akhirnya viral di media sosial itu, kesaksian seorang peserta perayaan 90 tahun Kolese Kanisius bernama Paulus Danang Yanri Hatmoko yang juga viral di media sosial ini layak disimak. Paulus menulis sebagai berikut;

Saya hadir dalam acara Perayaan 90 Tahun Kolese Kanisius yang sedang dihebohkan media sosial.

Dari dari awal hingga acara berakhir, kurang lebih 5 jam, saya duduk di baris terdepan persis di depan panggung. Maximinus Purnomo dan Veronica Shinta duduk sebaris bersama saya. Kami menikmati sepanjang acara dengan santun.

Sofa para VIP, termasuk Gubernur Anies ada sisi tengah, di kiri saya, meski kursi saya bukan VIP.

Presiden alumni de Britto, yg sekarang bertugas jadi Ketua Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia, Haji Datuk Sweida Zulalhamsyah, ada persis dibelakang sofa VIP di kiri saya. Sepanjang acara saya lihat mas Datuk sangat khidmat dan santun.

Berbeda dengan cerita di media sosial yg terasa seolah kejadian tersebut berlangsung dramatis, panas dan serba tidak santun, saya merasa kok acara pada malam itu berlangsung biasa saja secara politis meski dahsyat sekali secara kualitas pertunjukan, menimbang yang mempertunjukan karya seni di panggung itu adalah anak-anak usia SMP-SMA.

Akan sulit bagi sekolah lain di Indonesia untuk menghasilkan pentas sedahsyat malam itu, terutama orkestra musik tiup dari Kolese Kanisius, gamelan dari Kolese Loyola dan Tari Saman dari Kolese Gonzaga. Sayang sekali cerita ini tidak menyebar.

Cerita mengenai Gubernur Anies yang katanya tidak diperlakukan dengan pantas sebagai tamu juga tidak saya temui sepanjang malam itu.

Perlakuan dan penghormatan terhadap beliau terasa wajar saja: tepuk tangan oleh sebagian kecil audience ketika beliau masuk ruangan, naik podium dan selesai pidato. Tidak ada yang merendahkan beliau, menyoraki atau menghina selama beliau ada di ruangan atau ketika berpidato. Bahkan sesekali ada sekelompok kecil audience tepuk tangan ketika ada poin-poin pidato gubernur yang menarik.

Sangat terasa para pengurus Kolese Kanisius menyambut gubernur dengan hangat. Bahkan dalam pembukaan pidato, provinsial Jesuit, Rm Sunu, bercerita bahwa beliau diplonco Anies ketika masuk UGM dulu. Pembukaan yang sangat bersahabat dan terasa kekeluargaannya. Provinsial yang sangat santun.

Memang terasa tepuk tangan untuk sambutan Romo Sunu, terasa lebih membahana. Tapi rasanya ini bukan indikasi bahwa audience tidak sopan terhadap Gubernur Anies. Hal ini rasanya lebih karena audience merasa pidato Rm Sunu terasa sangat jujur, humble tapi sekaligus sangat pas konteksnya untuk para audience. Pidato Rm Sunu cerdas sekali terasa malam itu.

Malam itu Gubernur Anies berpidato dengan membaca text pidato, sehingga pidatonya terasa protokoler dan birokratis. Hal ini yang mungkin membuat pidatonya minim applaus audience. Kalau malam itu gubernur berpidato dengan lebih atraktif dan akrobatik, misalnya sambil koprol-koprol rasanya akan dapat applause lebih seru. Tapi khan ini jadi aneh dan sangat tidak mencerminkan Gubernur Anies yang kalem dan santun.

Kalaupun ada audience yang walk out selama gubernur pidato, saya rasa walk outnya juga dilakukan dengan santun dan tanpa suara. Buktinya saya tidak tau kalau ada yang walk out. Mungkin sesenyap ketika saya keluar ruangan untuk ke toilet untuk pipis dengan santun.

Para audience, yakni para siswa, alumni, orang tua siswa dan undangan, saya rasa sangat santun malam itu.

Saat Ananda Sukarlan menerima penghargaan dan berpidato, saat itu Gubernur Anies sudah tidak ada dalam ruangan. Pidato Ananda ini juga disampaikan dengan santun dan tidak terasa se-provokatif seperti yang beredar di sosial media.

Betul bahwa pidato ini menunjukkan ketidak-setujuan dan kritiknya terhadap Gubernur Anies yang dirasa memanfaatkan issue SARA dalam proses kontestasi Pilkada, tapi saya rasa, dalam konteks bahwa acara ini dibuat dalam lingkup pendidikan Jesuit yang sangat menekankan dialektika, pemikiran kritis dan keberanian mengungkapkan pendapat, pidato ini tidaklah menjadi hal yang terlalu nyeleneh. Biasa saja dan tidak provokatif.

Demikian cerita saya mengenai Perayaan 90 Tahun Kolese Kanisius. Mohon maaf jika ada kurang berkenan dan kurang santun. 

Dengan demikian, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang disebut mendapat respons negatif saat menghadiri acara sebagaimana diberitakan sebuah media online tidak seluruhnya benar.

Baca Juga:  Yusril Meredup, Rizal Ramli Menguat sebagai Lawan Ahok

Anies Baswedan sendiri kepada media menyatakan tidak mempermasalahkan sikap Ananda tersebut.

“Jadi, saya akan menyapa semua, mengayomi semua. Kalau kemudian ada reaksi negatif, ya itu bonus aja buat saya. Enggak ada sesuatu, biasa aja, rileks,” ujar Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Senin 13 November 2017 sebagaimana dikutip Kompas.com.

***