Sketsa

Ramalan Cupu Panjala 2017 dan 47 Korban Tewas Pabrik Petasan

Ramalan, Cupu Panjala, Budaya, Jawa, Petasan, Mistik, Headline
Ritual ramalan "Cupu Panjala"
Ramalan Cupu Panjala selalu dijadikan rujukan berbagai kepentingan sosial, politik dan ekonomi. Untuk tabun 2017 banyak pertanda yang mengejutkan. Apa såja?

Di Desa Giri Sekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, setiap tahun terdapat ritual masyarakat yang sudah menjadi tradisi turun menurun. Tradisi tersebut awalnya merupakan ramalan kondisi desa, tapi kemudian bergeser jadi lingkup kota, bahkan akhirnya berskala negara untuk setahun ke depan.

Mulanya hanya digunakan untuk meramalkan kondisi pertanian, untuk setahun ke depan. Ini sebenarnya merupakan budaya agraris yang dalam kebiasaan masyarakat Jawa merupakan bagian dari apa yang disebut pranata mangsa. Ia menangkap isyarat alam, mencatatnya sebagai sebuah pola, sebagai bagian dari keakraban hubungan antara alam dan manusia.

Alam disini diartikan secara luas ya tumbuhan, ya hewan, ya tata air, ya tata udara, dan seterusnya. Manusia bukan merasa dirinya “lemah dan tunduk”, tapi lebih pada hormat dan bersahabat pada alam. Makanya, setiap ada manusia yang merasa hebat bisa menaklukan alam, saya selalu mencatat bahwa sebenarnya ia hanya menunggu waktu untuk kemudian takluk dan lenyap ditelan ruang dan waktu. Kesombongan yang sia-sia.

Apa itu Cupu Panjala? Cupu itu sejenis guci kecil, sedangkan Panjala sebenarnya nama tokoh spiritual yang memiliki cupu tersebut. Nama asli Kyai Panjala adalah Eyang Seyek, ia seorang yang suka menyepi dan bertapa, hingga seumur hidupnya tidak menikah dan punya anak. Namun ia memiliki 10 saudara kandung, 5 laki-laki dan 5 perempuan.

Keturunan dari saudara-saudaranya inilah yang kemudian mewarisi ketiga cupu itu. Cupu tersebut masing-masing memiliki nama berturut-turut: Semar Tinandu (menggambarkan para penguasa), Palang Kinantang (kelas menengah) dan Kenthiwiri (rakyat jelata).

Ketiga cupu ini dibungkus dan disimpan selama setahun, biasanya setiap Oktober dibuka, diganti kain baru dan dibungkus lagi. Kain lama yang dibuka inilah, yang “anehnya”, selalu memiliki gambar-gambar yang berbagai rupa. Gambar-gambar inilah yang ditafsirkan secara bebas oleh masyarakat.

Baca Juga:  Posisi Polri Menjelang Pilkada DKI, Terlalu Hati-hati?

Pihak keluarga sendiri, tidak pernah memberikan tafsir khusus, hanya mengabarkan dan menjelaskan gambar-gambar apa saja yang muncul, jumlahnya, dan hal-hal lain yang sifatnya visual. Tafsir itulah yang kemudian dianggap sebagai ramalan untuk setahun ke depan.

Walau tidak pernah diakui secara terbuka, ia selalu dijadikan rujukan bagi berbagai kepentingan sosial, politik maupun ekonomi di negeri ini.

Untuk tahun 2017 ini, Cupu Panjala itu dibuka Selasa, 17 Oktober lalu. Masyarakat yang sempat hadir, sempat terperangah dengan banyaknya pertanda yang cukup mengusik pada saat itu. Dan yang paling menonjol, adalah adanya bercak merah yang menggerombol jadi satu berjumlah 47.

Ini angka yang cukup besar untuk bisa ditafsirkan. Tak nyana, sepuluh hari kemudian pada tanggal 26 Oktober di Kosambi, Tangerang terjadi ledakan dan kebakaran hebat di sebuah pabrik kembang api. Angka ini menunjukkan jumlah angka yang tewas pada hari pertama!

Tentu saja ini sebuah tragedi yang sangat memilukan, karena walau Tangerang bukan Jakarta (tapi keduanya sulit dipisahkan sebagai sebuah teritori sosial). Sebuah pertanda buruk, setelah beberapa hari sebelumnya, seorang gubernur baru dilantik.

Hal itu terlihat dalam salah satu lembar kain lain yang bergambar Prabu Dasamuka atau lebih populer sebagai Rahwana di sisi barat laut. Raja ini memiliki sepuluh wajah, artinya ia seorang yang tidak memiliki loyalitas. Loyalitasnya hanya pada dirinya sendiri. Ia orang tak mau kalah dan tidak pernah merasa bersalah. Silahkan tafirkan sendiri siapa dia!

Tradisi Cupu Panjala hanya sebuah “budaya kecil”, sebuah bahan bacaan sederhana bagi rakyat kecil pada mulanya. Bahwa kemudian “orang-orang besar” kemudian suka ikut mengintip, bahkan menjadikannya rujukan dan pedoman. Bukankah memang demikian “kultur” masyarakat politik dewasa ini dijalankan? Tidak mau dianggap sebagai rakyat, tetapi selalu merasa diri sebagai wakil rakyat dan penyeru suara rakyat.

Baca Juga:  Salam Dua Jari Bergema Kembali, Masih Bawa Hoki?

Ini tergambar dari ketiga cupu tersebut. Cupu Kenthiwiri, satu-satunya yang duduknya sengkleh (doyong). Menunjukkan bahwa sebenarnya rakyat banyak sudah sangat lelah, bukan saja lelah menghadapi realitas hidup, tetapi terutama lelah dijadikan “atas nama”.

Silahkan untuk percaya atau tidak, saya hanya ingin berkabar.

***