Gaya

Tanpa Facebook, WA dan Google Tak Perlu Mati Gaya, Apalagi Mati Kutu!

Huawei, Teknologi Informasi, ICT, Tiongkok, Shenzhen, Catatan Perjalanan, Headline, Mahasiswa
Kantor Huawei di Shenzhen (Foto: Pepih Nugraha)
Bersama Great Dagon, Datang dan ZTE, Huawei merupakan perusahaan ICT besar dengan bisnis solusi kehidupan sehari-hari melalui teknologi informasi.

Senin 18 September 2017, saya memasuki gerbang kota termegah di Provinsi Guangdong lewat jalan darat dari Hongkong. Menggunakan Alphard sewaan dengan dua plat nomor yang umum di lintas Hongkong-Shenzhen, senja jingga yang berbaur dengan gemerlap lampu penerangan kota yang mulai dinyalakan menyambut saya dan rombongan kecil dari Jakarta

Catatan perjalanan saya ke Shenzhen, Tiongkok atas undangan Huawei ini direncanakan ditulis secara serial. Banyak hal yang bisa saya ceritakan. Tidak melulu soal perkembangan teknologi informasi yang pesat, produk apa yang sedang dikembangkan di negeri yang dulu disebut Tirai Bambu itu khususnya oleh Huawei, dan aplikasi teknologi apa yang dikembangkan untuk kehidupan sehari-hari saat ini dan masa mendatang, melainkan hal-hal menarik lainnya.

Sebagai pembuka, saya mulai dengan hal-hal ringan, yaitu tentang cerita Duta Besar RI untuk Tiongkok, Soegeng Rahardjo saat menjawab pertanyaan Usman Hakiki, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang mengikuti program “Seeds for the Future” salah satu perusahaan ICT terbesar di Tiongkok itu. Saya tidak mengikuti percakapan ini karena terjadi di Beijing, sedangkan saya hanya sampai ke Shenzhen. Tetapi, perkembangan teknologi bukan suatu rintangan untuk mengikuti audiensi Sang Dubes dengan 10 mahasiswa Indonesia.

Pertanyaan Usman sungguh sederhana, namun dalam pertanyaan itu sudah tercermin pemahamannya mengenai arti penting  proximity atau kedekatan yang biasa saya pakai saat menjalankan tugas jurnalistik; What kind of strategies that we can learn from China to build Indonesia as all of us here are engineers and many areas in Indonesia are not reached yet by technology?

Jawaban Dubes Sugeng Rahardjo tidak kalah penting dan menarik. Jawabannya lebih menonjolkan pengetahuan umumnya yang luas tinimbang jawaban khas diplomat. Menurut Soegeng, kemajuan Tiongkok di bidang teknologi dan informasi (ICT) seperti sekarang ini tidak lain sebagai hasil dari benchmark ke negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat.

Jika Perancis meraih kemajuan berkat penaklukan sebagian besar daratan Eropa oleh Napoleon Bonaparte, Inggris meraih kejayaan berbagai inovasi berkat Revolusi Industri, maka Amerika Serikat meraih kemajuan bidang teknologi usai Perang Dunia II yang mengharu-biru itu. Bagaimana dengan Tiongkok?

Menurut Soegeng, menyambut Abad 21, Tiongkok meraih kemajuan dengan satu satu kunci, yakni “Infrastruktur”. Untuk menghubungkan seluruh daratan Tiongkok, agar mobilisasi massa dan komoditi berjalan lancar tanpa hambatan, maka Tiongkok di bawah Deng Xiaoping mulai membangun infrastruktur berupa jalan tol besar-besaran, jaringan rel kereta api yang membentang dari kota-kota yang panjangnya tidak mau kalah dengan Tembok Cina.

Baca Juga:  Inilah Hakim Kusno Yang Pimpin Praperadilan Kedua Setya Novanto

Pelabuhan untuk menyandarkan berbagai kapal besar, bandara yang mendekatkan Tiongkok dengan belahan dunia lainnya, serta jaringan telekomunikasi, dibangun secara-besar-besaran. Pemerintah Tiongkok sadar, ketertinggalan negara itu selama ini karena politik mengisolasi diri di bawah rezim sebelumnya, Mao Zedong.

Tentu saja ada sisi baik daeri seorang Mao, yakni sebuah warisan sistem politik yang sangat kuat, ketat, dan kaku, yang berperan membentuk karakter warga Tiongkok berjiwa kuat, setidak-tidaknya patuh kepada negara dan pemimpin mereka seperti sekarang ini.

“Tak ada seorang pun warga Tiongkok yang melewatkan kesenangan mereka untuk selalu terhubung. Di Tiongkok orang menggunakan Wechat and Alipay untuk sekadar membayar sayuran dengan harga 5 Yuan (Rp10.000). Indonesia memerlukan lebih banyak serat optik atau satelit untuk mendukung kemajuan seperti ini,” kata Soegeng.

Sebagaimana saya kemukakan sebelumnya, kehati-hatian Tiongkok termanisfestasi dalam bentuk larangan atau blocking seluruh produk Internet asing. Jika Anda yang biasa “mati gaya” jika tidak tersambung ke Internet, Anda akan benar-benar “mati kutu” alias tidak bisa berbuat apa-apa saat menginjak kaki di Tiongkok, melalui provinsi manapun, seolah-olah gawai (gadget) mahal di tangan siap dibenamkan ke dalam lumpur karena nyaris tidak berfungsi. Di dunia maya, yaitu di Internet, Tiongkok seolah-olah senyap tanpa kehidupan. Itu bagi pendatang asing.

Namun sebagaimana dikemukakan Fariz Azhar Abdillah, mahasiswa Fakultas Teknik Elektro Universitas Indonesia berusia 21 tahun yang didapuk sebagai “kepala suku” rombongan mahasiswa Indonesia peserta Huawei “Seeds For The Future 2017” itu, pemblokiran produk Internet asing oleh pemerintah pusat di Beijing telah merangsang para developer ICT untuk membuat produknya sendiri. Jika pemblokiran ini diterapkan di Indonesia, kata Fariz, jelas sudah sangat terlambat karena ekosistem pengembangan ICT sudah terbentuk.

Jika Whatsapp merajai dunia, di Tiongkok aplikasi percakapan yang kini dimiliki Facebook itu mati kutu. Sebab, yang berjaya adalah Wechat. Uniknya, selain Alipay milik Jack Ma “Alibaba”, Wechat sudah menjadi alat pembayaran sendiri yang populer di Tiongkok, menyisihkan uang lembaran Yuan (apalagi recehan) dari dompet. Alat pembayaran cukup menggunakan ponsel yang selalu tersambung ke Internet, bahkan sekadar membeli permen atau eskrim.

Tidak ada Youtube, ada Youku. Google mati tapi Baidu nyala terus. Twitter berhenti berkicau, Weibo berisiknya minta ampun. Dan, QZone menggantikan Facebook yang hiruk-pikuk. Jadi bagi warga Tiongkok sendiri, tidak ada alasan untuk mati gaya di negeri sendiri, apalagi mati kutu.

Bagi pendatang baru atau warga asing seperti saya yang menginjakkan kaki di Tiongkok, haruslah melampaui prakondisi terlebih dahulu khususnya terkait alat komunikasi yang dibawa. Ini pengalaman kedua saya di Tiongkok di mana tiga tahun sebelumnya saya melintas Shanghai-Shenzhen.

Baca Juga:  Mungkinkah Memulai Usaha Rintisan Saat Usia Sudah di Atas 50 Tahun?

Tentu saja dengan bantuan Yunny Christine, Deputy Director Public Affairs and Communications Department Huawei Indonesia, yang memberi fasilitas berupa produk ponsel terbaru P10 (baca Pi-Ten) plus akses Internet untuk seluruh daratan Tiongkok, saya tidak pernah mati gaya, apalagi mati kutu.

Danur Ilham Khoiruman, mahasiswa ITS lainnya, bertanya dengan aroma filsafat yang pekat, yakni nilai-nilai kearifan Tiongkok  yang bisa dibawa ke Indonesia. Dubes Soegeng Rahardjo mengutip empat nilai Tiongkok yang cocok bagi generasi muda Indonesia, yakni disiplin dalam berbagai bentuk, komitmen yang tinggi untuk meraih masa depan, bekerja keras dan menabung uang untuk kehidupan masa mendatang.

Jangan terlalu banyak bertanya kepada orang lain, tanyalah dirimu sendiri dan buatlah yang pertama-tama untuk dirimu, kata Soegeng menjawab pertanyaan Danur. Di Tiongkok ini, semua orang menabung untuk menjamin masa depan. “Jadi, jangan taruh masa depanmu kepada orang lain, tetapi ciptakan masa depanmu melalui usahamu,” kata Soegeng.

Menjadi “Kiblat” ICT

Kembali mengikuti “pola pikir” Deng Xiaoping, “Bapak Pembangunan” yang membangun Tiongkok sedemikian pesat, negara ini rupanya tidak mau berdiam diri atau jalan di tempat dengan sistem ekonomi yang kaku, meniru sistem komunis mereka yang satu komando. Berkat Deng yang membuka kran ekonomi global, Tiongkok bukan lagi negara “antah berantah” yang berada di gugusan sebuah galaksi terasing dengan penduduk Alien di dalamnya, Tiongkok terbuka menerima investasi dan perdagangan luar bahkan politik dagang eskpansionis dijalankan dengan terstruktur dan cermat.

Terstruktur di sini mengikuti pola pencapaian dengan roadmap yang jelas, sedang cermat bermakna penuh kehati-hatian. Sampai saat ini sikap kehati-hatian itu dijalankan secara ketat meski terkesan paranoid seperti membendung Internet produk antara lain seperti Google, Twitter, Instagram, Whatsapp, Snapchat dan Facebook.

Baca Juga:  Hidup di Antara Nella Kharisma dan Via Vallen

Membendung bukan berarti berdiam diri. Rupanya filosofis di balik pemblokiran seluruh akses Internet sebagai “menjaga kepentingan negara”, juga merangsang para pembuat aplikasi ICT dan digital Tiongkok menggeliat. Huawei salah satunya.

Dalam konteks ICT, manakala Beijing atau Shanghai di bawah pelupuk mata saat hidung pesawat menukik di bandara, yang terkesan adalah kesenyapan sebuah negeri yang dulu sangat ditakuti siapapun karena kertetutupannya. Bandingannya sekarang mungkin Korea Utara, negeri yang masih tertutup kabut misterius. Anda saja Tiongkok masih tertutup seperti Korut dan tidak memiliki seorang Deng, mungkin nasibnya akan sama dengan negeri komunis di semenanjung Korea itu.

Salah satu ruang pamer produk Huawei di Shenzhen (Foto: Pepih Nugraha)
Salah satu ruang pamer produk Huawei di Shenzhen (Foto: Pepih Nugraha)

Namun lewat kebijakan ekonomi Deng di akhir tahun 1970-an yang menjungkirbalikkan sistem perekonomian Tiongkok sebelumnya dengan pertanian dan perdagangan sebagai tumpuan, tumbuhlah raksasa ICT Tiongkok seperti Great Dagon, Datang, ZTE dan Huawei yang bukan saja besar di negeri sendiri, tetapi ekspansi ke luar negeri dengan mendirikan sejumlah pabrik, kantor, dan riset tekologi berskala “gigantik”. Padahal sebagaimana Huawei, produsen ICT itu baru dimulai di pertengan tahun 1980-an.

Selama ratusan dan bahkan ribuan tahun, Tiongkok hanya dikuasai oleh politisi, dinasti kerajaan dan pertanian sebagai sektor andalan. Pedagang, meski itu sebuah profesi, tidak dianggap penting dan bukan posisi yang terhormat, sebagaimana tergambar dalam buku Huawei Leadership, Culture and Connectivity karya Tian Tao.

Bahkan, pengusaha sukses seperti Lu Buwei yang hidup antara tahun 292-235 Sebelum Masehi atau yang lebih kekinian Hu Xueyan (1823-1885) bisa survive sebagai penguasaha hanya karena ketergantungannya pada politik negara. Deng menjungkirbalikkan seluruh tatanan lama dan disambut dengan suka cita oleh orang-orang yang kelak menjadi pengusaha sukses seperti Bu Xinsheng, Ma Shengli, Mou Qizhong, Nian Guiangjiu, Zhang Ruimin dan Liu Chuangzhi. Dalam pusaran besar inilah Ren Zhengfei tampil sebagai “the first mover”, menangkap peluang dengan mendirikan Huawei.

Bercerita mengenai perjalanan panjang Huawei sampai menjadi sebuah perusahaan global yang disegani, tidak cukup setarikan nafas saja. Harus ada waktu khusus untuk menceritakannya dan saya akan memaparkan dalam catatan perjalanan berikut dengan segala keingintahuan saya yang sangat besar.

Bagian pertama perjalanan saya ke Shenzhen, Tiongkok, saya cukupkan sekian dulu.

***