Gaya

Giliyang, Pulau Oksigen Terbaik Dunia di Sumenep, Madura

Wisata, Pulau Giliyang, Madura, Oksigen, Headline
Giliyang (Foto: Mochamad Toha)
Tahukah Anda bahwa kadar oksigen terbaik ke-2 di dunia setelah Yordania itu berada di Pulau Sumenep, Madura? Ini dia bukti-buktinya!

Salah satu wilayah di Pulau Madura yang memiliki banyak pulau adalah Kabupaten Sumenep. Setidaknya, total kepulauan yang dimiliki Sumenep ada 125 pulau, baik yang berpenghuni dan tak berpenghuni. Siapa sangka di antara pulau tersebut terdapat satu pulau dengan kadar oksigen terbaik ke-2 di dunia setelah Yordania.

Namanya Pulau Giliyang, yang secara administratif berada di wilayah Kecamatan Dungkek, Sumenep. Giliyang secara geografis berada pada koordinat 060 59’ 9” LS dan 1140 10’ 29” BT dengan luas 921.2 ha. Verifikasi Tim Pembakuan Nama Rupabumi Tahun 2006 memberi nama Pulau Giliyang terhadap pulau tersebut.

Giliyang diklaim mempunyai kadar oksigen terbaik di dunia, berdasarkan hasil penelitian tim Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN pada akhir Juli 2006 lalu, yang kemudian dilakukan kaji ulang pada 27 Desember 2011 oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumenep dan Jawa Timur serta pihak Bappeda.

Ketiga Lembaga Pemerintah ini menunjukkan bahwa Pulau Giliyang satu-satunya pulau yang mempunyai kadar oksigen terbaik di dunia sehingga sangat tepat bila kawasan tersebut dijadikan wisata kesehatan.

Dari hasil penelitian itu, Pulau Giliyang memiliki konsentrasi oksigen sebesar 20,9 persen dengan level explosif limit (LEL) 0,5 persen. Nilai kandungan tersebut berbeda dengan di wilayah lain yang mempunyai nilai konsentrasi oksigen 20,9 persen dan LEL 0,0 persen. Ketika dikaji ulang, hasilnya pun sama, yakni oksigen di pulau tersebut antara 3,3 hingga 4,8 persen atau di atas normal.

Menurut Balai Besar Teknis Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jatim ketika melakukan pembuktian kandungan kadar oksigen di pulau ini memiliki kandungan oksigen 21,5 persen atau di atas rata-rata 20 persen, dengan mengambil beberapa sampel, seperti air laut, ikan, udara, dan memeriksa 20 warga yang berusia 80 tahun ke atas.

Baca Juga:  Jokowi dan Kontroversi Konversi Dana Haji, Sebuah Pancingan?

Bahkan ditemukan ada sejumlah orang memiliki usia sampai 175 tahun. Untuk kadar oksigen 21,5 persen, CO2 mencapai 265 ppm, ambang batas 387 ppm dan tingkat kebisingan 36,5 db. Jadi kondisi oksigen ini berada di atas mutu normal, jadi bagus untuk kesehatan.

Maka tak heran di pulau ini, kerap disebut-sebut sebagai “Pulau Awet Muda”. Memang udara alam di tempat ini cukup sejuk dan segar, meski di pulau tidak terdapat perbukitan atau gunung. Alamnya terbaku dari seluruh arah.

Artinya, pulau ini sangat cocok bagi Anda yang hendak berwisata namun tetap sehat, karena di pulau ini Anda akan menghirup udara dengan kadar polusi sangat rendah, yang dipastikan lebih sehat untuk Anda.

Saat itu, peneliti LAPAN mendapati dari pantauan satelit bahwa kandungan oksigen di pulau ini cukup tinggi. Akhirnya LAPAN melakukan penelitian selama 3 bulan di tempat itu dengan menebar delapan alat pengukur kandungan oksigen di udara.

Bahkan sekali waktu, ketinggian kandungan oksigen di tempat itu mengalahkan salah satu daerah di Yordania yang juga memiliki kandungan oksigen cukup tinggi. Penyebab kandungan oksigen yang cukup tinggi itu karena pengaruh perputaran udara dari laut sekitar pulau itu.

Kawasan Pulau Gili Iyang itu masih belum banyak pencemaran udara, kawasannya masih alami dan bersih. Memang salah satu pendorong kesehatan udara di pulau ini, karena terdapat banyak gua (menurut catatan ada 17 gua).

Tebing-tebing bibir pantai yang waktu sebelumnya terdapat juntaian pohon santeki (santigi), namun ketika booming masyarakat terhadap pohon bonsai, pohon yang keras dan mempesona itu, akhirnya dibabat habis demi angkat puluhan juta rupiah.

Ditemukan orang Mandar

Selain itu, panorama pantainya sangat indah menawan dan terdapat hamparan batu karang bertaburan serta semakin asyik ketika menikmati matahari terbit dan matahari tenggelam, tentu pula apalagi pada saat-saat bulan purnama, cahaya bulan akan lebih terang menderang diantara celah-celah pepohonan.

Baca Juga:  Tanpa Facebook, WA dan Google Tak Perlu Mati Gaya, Apalagi Mati Kutu!

Masyarakatnya yang ramah, sederhana serta mempertahakan tradisi lingkungan itu, memberi suasana baru ketika orang-orang setelah berhadapan sekian formalitas hidup dalam sebuah keramaian kota.

Untuk menuju Giliyang bisa ditempuh dari Pelabuhan Dungkek, sekitar 28 km dari pusat kota Sumenep, kemudian naik perahu (mesin) hanya memakan waktu 1 – 1,5 jam perjalanan tiba di Pelabuhan Bancamara, Giliyang. Sesampai di darat, yang dirasakan adalah udara sejuk langsung menyeruak masuk hidung hingga terasa segar di dalam paru-paru.

Sangat terasa sekali perbedaan udara di Pulau Giliyang dengan udara di daerah lain, terlebih lagi dibandingkan dengan udara di kawasan perkotaan terkontaminasi asap kendaraan bermotor, asap pabrik, dan kepengapan pantulan dari gedung-gedung raksasa.

Dari pelabuhan ini, masyarakat sertempat akan siap mengantar kemana arah yang diinginkan, menuju wisata gua yang unik, pantai atau sekedar menikmati udara segar di sepanjang pelosok desa. Meski tidak adanya alat transportasi mobil, namun kendaraan roda dua dan tiga masih ada. Tapi akan jauh lebih menarik lagi bila dijalani dengan langkah kaki, karena dalam suasana udara yang segar, tidak akan terasa kelelahan, karena luas pulau ini hanya 921.2 ha.

Di Giliyang juga terdapat gua yang eksotik seperti Gua Air, yang terletak di Desa Bancamara, termasuk gua cukup luas dengan kedalaman sampai 150 m. Dalam gua ini terdapat sumber mata air, dan justru meski berdekatan dengan pantai, namun airnya tawar dan menyegarkan.

Gua Syarifah, biasanya setiap tiba bulan Ramadhan sering dikunjungi anak-anak muda sambil menunggu waktu berbuka (ngabuburit). Selain itu ada pula Gua Petapa Kelompang di Dusun Baru, Desa Banraas, yang dulunya sering dijadikan sebagai tempat bertapa oleh para leluhur, di samping Gua Mahakarya, yang memiliki ornamen stalastik dan stalakmit yang unik.

Baca Juga:  Jilbab dan Keinginan Wanita Diberi Penguatan atas Pilihannya

Sejarah Pulau Giliyang ini pertama kali ditemukan oleh orang Mandar yang bernama Daeng Masaleh pada 1926. Daeng Masaleh merupakan orang yang pertama kali membuka jalan dan membabat hutan di Pulau Giliyang. Menurut tetua di Pulau Giliyang, Daeng Masaleh datang dari Pulau Sulawesi dengan dituntun oleh Ikan Hiu hingga akhirnya menemukan daratan pulau.

Daeng Masaleh pertama kali mendarat di ujung utara Pulau Giliyang namun segera berpindah ke bagian barat karena terjadi wabah kusta di lokasi tersebut, setelah berpindah ke bagian barat, Daeng Masaleh menetap di bagian timur pulau yang sekarang dikenal sebagai Desa Bancamara hingga akhirnya berkembang pemukiman penduduk dan banyak penduduk asli Madura pindah di pulau Giliyang.

***