Sketsa

Hitler, Speaker dan Amplifier yang “Memakan” Anaknya Sendiri

Sejarah, Headline, Speaker, Amplifier, Sosial, Agama, Adolf Hitler, Pembunuhan, Bekasi
Adolf Hitler (Foto: Medium.com)
Sama-sama bermanfaat sebagai pelantang dan penguat suara, speaker dan amplifier telah dimanfaatkan Adolf Hitler sebagai "mesin pembunuh" yang efektif.

Tokoh dunia yang paling mengerti benar manfaat speaker adalah Adolf Hitler. Ia adalah tokoh sentral timbulnya Perang Dunia II, perang yang paling dahsyat dan eskalatif yang pernah terjadi di muka bumi sepanjang masa. Hitler sebenarnya adalah veteran prajurit dalam PD I, namun kemudian karena dianggap berupaya melakukan kudeta, ia dipenjara.

Di penjara inilah, ia melahirkan bukunya yang kelak akan jadi kitab suci kaum fasis, Mein Kampt (Perjuanganku). Setelah bebas tahun 1924, Hitler mendapat dukungan rakyat ia gigih memperjuangkan Pan-Jermanisme, antisemitisme, dan anti-komunisme melalui pidatonya yang karismatik dan propaganda Nazi.

Dan, orang terpukau oleh gaya pidatonya yang menggugah dan memikat. Mustahil dampaknya jadi efektif, bila tak ada teknologi baru yang bernama speaker, sebut saja pelantang, dan amplifier atau penguat suara. Jerman memang terkenal dengan berbagai teknologi tata suara yang canggih sejak awal abad 20.

Nyonthong (baca: berteriak keras) di speaker inilah, sebenarnya inti kekuatan utama Hitler dan Gerakan Nazi-nya!

Politisi kelahiran Braunau, Austria 1889 ini mengawali untuk mengubah Republik Weimar menjadi Reich Ketiga, sebuah kediktatoran satu partai yang didasarkan pada ideologi Nazisme yang totalitarian dan otokratik yang di kemudian hari terkenal sebagai fasisme!

Kebijakan Hitler yang supremasis dan termotivasi oleh ras mengakibatkan kematian sekitar 50 juta orang selama Perang Dunia II, termasuk 6 juta kaum Yahudi dan 5 juta etnis “non-Arya” yang pemusnahan sistematisnya diperintahkan oleh Hitler dan rekan-rekan terdekatnya.

Karena itu, berpuluh tahun kemudian Jerman adalah bangsa yang termasuk alergi terhadap speaker. Mereka cenderung menghindari suatu gerakan yang sifatnya mengumpulkan massa. Mereka memilih untuk menulis, membaca dan berdiskusi, Bertukar pikiran dan membuat kemajuan melalui perubahan yang baik.

Baca Juga:  Megawati Dipolisikan, Upaya Ulangi Sukses Pilkada DKI di Level Nasional

Dari sinilah muncul sosialisme yang humanistik, yang membuat Jerman saat ini menjadi negara yang di luar kekuatan ekonomi, sosial, budaya juga cenderung lebih cinta damai.

Berbalikan dengan itu, teknologi speaker dan amplifier yang dianggap fasis ini digunakan di belahan dunia lain, secara lebih maksimal. Ia digunakan untuk menggantiakan perangkat lama yang, sial betul dianggap bid’ah karena dianggap mewarisi nilai-nilai lama.

Bedug dan kentongan yang lebih dulu dianggap perangkat komunikasi yang efektif disingkirkan, diberi segenap label yang “merendahkan”. Speaker masih seperti zaman Hitler di tempat di menara tinggi, tak terjangkau. Dan amplifier ditempatkna di ruang khusus atau dikotaki agar tak lagi setiap orang sembarangan bisa menjamahnya.

Mereka ini, menjadi perangkat yang paling dilindungi lebih daripada kesalehan dan kerendahan hati yang semestinya lebih patut dilindungi. Tak ada sebuah mekanisme pun yang membolehkan orang menegur, bila suara yang dihasilkan speaker itu bila sampai tahap mengganggu. Semua teguran akan dianggap sebagai perlawanan terhadap sekelompok umat dan penghalangan untuk melakukan ritual peribadahan.

Intinya protes itu tabu dan bikin malu!

Dan bila hari-hari ini, ada seorang tukang ampli yang mampir sholat di sebuah mushala dituduh mencuri ampli, lalu disansak dan akhirnya dibakar, maka lahirlah hukum model baru. Yang dibakar: salahnya adalah kenapa ia justru lari, bila merasa tak bersalah. Yang membakar: tidak bersalah, mereka melindungi amplifier, karena inilah barang yang “sangat penting dan berharga”.

Dengan speaker, Hitler telah menciptakan omong kosong sejarah bahwa revolusi telah memakan anaknya sendiri. Apa yang terjadi kemarin di Bekasi jadi contohnya. Fasisme ada dimana-mana, tidak hanya di kota bahkan telah masuk hingga ke tingkat desa!

Baca Juga:  Para Santo dan Santa di Pondok Efata, Upaya Memanusiakan Manusia

***