Gaya

Kalian Harus Tetap Keren Meski Tanpa Gawai di Tangan. Caranya?

Gaya Hidup, Ponsel, Smartphone, Gawai, Istana Merdeka, Undangan, Joko Widodo, Prilaku, Psikologi Sosial, Headline
Foto ilustrasi: Kanthalaraghu.com
Gawai yang menjadi kelengkapan pelajar membuat mereka lebih bodoh dan kurang kreatif dibanding pelajar yang tidak menggunakan ponsel sama sekali. Benarkah?

Saya ingin sedikit mengungkap “inside story” pertemuan saya dan sejumlah pegiat media sosial beberapa waktu lalu saat diundang makan siang Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Diundang Presiden Republik Indonesia bukan hal luar biasa bagi mereka yang biasa atau sering berinteraksi dengannya. Menjadi luar biasa karena tidak sembarang orang bisa masuk Istana Negara diundang oleh “Orang Nomor Satu” di Republik, siapapun dia.

Dalam benak, saya akan selfie bersama Presiden Jokowi menggunakan gawai (gadget) berupa smartphone lumayan canggih dan mumpuni yang saya miliki. Untuk itulah saya bela-belain membawa power bank, jaga-jaga kalau ponsel saya mati suri alias low-batt.

Tapi apa mau dikata, rencana tinggal rencana, angan-angan tinggal bayangan. Bahkan permintaan seorang teman di kantor agar saya merekam gambar video testimoni Presiden untuk menyelamatkan ulang tahun kantor itu, tidak bisa saya luluskan. Apa pasal? Sebab semua alat-alat tempur pribadi yang melekat di diri dan menjadi kelangkapan hidup sehari-hari dilucuti Paspampres sesaat sebelum kami memasuki Istana Negara.

Paspampres adalah akronim Pasukan Pengamanan Presiden yang menjaga keselamatan Presiden RI selama 24 jam penuh. Wajar kalau “alat-alat tempur” yang sejatinya alat elektronik seperti gawai untuk kehidupan sehari-hari turut dilucuti.

Bisa dibayangkan kalau dalam gawai itu tersemat bom nuklir mini yang digerakkan dari jarak jauh, atau aplikasi tertentu yang ada di ponsel digunakan sebagai alat penyadap percakapan antara tetamu dengan Presiden di mana suaranya bisa terdengar ke luar Istana, pasti keamanan negara dan keselamatan Presiden urusannya.

Untuk itu, saya pasrah saja ketika satu-satunya “alat tempur” pribadi yang melekat di diri, yakni sebuah smartphone yang multitasking, memasuki pemindai Sinar-X dan setelah ke luar langsung ditampung di tempat penyimpanan gawai Paspampres. Duh….

Lantas, apakah saya harus menyerah saat semua gawai yang menjadi kelengkapan sehari-hari dipreteli dan dilucuti Paspampres?

Baca Juga:  Inilah Alasan Mengapa TNI Sedemikian Membenci PKI

Itu pilihan sih; bisa langsung menyerah dan pasrah, bisa juga memutar otak dan berpikir keras harus melakukan sesuatu meski tanpa gawai di tangan. Bagaimana caranya? Apakah bisa? Ya bisa. Caranya…. cukup mengandalkan kekuatan bawaan yang menempel pada diri masing-masing meski tanpa gawai teman seiring, alat supercanggih buatan Tuhan Sang Pencipta. Simple, bukan?

Sederhananya, saya gunakan kekuatan pikiran dan ingatan saya untuk menyerap serta merekam semua pernyataan Presidisen RI itu. Saya fungsikan pancaindera saya untuk keperluan yang sama;

Mata saya gunakan untuk melihat secara panoramic keadaan sekeliling Istana Negara, lalu merekamnya dalam ingatan. Ini perlu untuk menggambarkan atau mendeskripsikan suasana, bahkan tingkah-laku Presiden di depan mata saya sendiri.

Telinga saya pasang baik-baik untuk mendengarkan segala ucapan Presiden, juga timnya yang bekerja saat itu, lalu saya simpan dalam memori.

Hidung saya gunakan untuk mencium aroma Istana dan hidung pulalah yang saya manfaatkan untuk “merekam” hidangan nasi padang penggugah selera sebagai sajian makan siang Istana. Semua saya simpan dan saya rekam dalam ingatan!

Apalagi, ya? Oh iya… hanya indera peraba saja yang saya nonaktifkan, toh saya tidak harus mendeskripsikan secara detail bagaimana lembut atau kasarnya kulit Sang Presiden saat saya bersalaman. Nggak penting, toh?

Manfaatkan ingatan

Sesungguhnya, apa sih di balik overture tulisan saya yang panjang-lebar ini?

Ya, tidak lain dan tidak bukan; kita, saya atau Anda, jangan sampai tergantung kepada gawai dalam menjalani kehidupan sehari-hari!

Bukankah gawai itu cuma alat elektronik yang semula diniatkan untuk memudahkan manusia? Mengapa harus panik dan heboh hanya karena gawai tidak berada di tangan? Please, deh. Percayakan saja ketiadaan gawai di tangan kepada ingatan. Ya, ingatan!

Baca Juga:  Debutan Partai Politik dan Mimpi Mereka Bersih-bersih Indonesia

Ingatan adalah barang berharga yang kita punya dari sekadar gawai dengan memori terbatas yang diciptakan manusia. Memori kita tidak terbatas, tetapi hanya karena ketidakyakinan atas kemampuan diri sendiri sajalah kita sering tidak memanfaatkan ingatan sendiri. Sudah banyak diceritakan lewat status di media sosial bahwa seseorang terpaksa harus kembali ke rumah sesampainya di kantor hanya karena lupa membawa ponsel atau smartphone-nya.

Orang ini panik karena tanpa ponsel sehari, hidupnya akan sia-sia bahkan karier bisa saja melorot. Seperti perosotan anak-anak saja. Tak satupun nomor kontak telepon yang dihapalnya, bahkan nomor istri/suami atau anaknya sendiri. Semua karena phonebook sebagai fitur wajib pada setiap smartphone sudah memudahkannya, menyimpannya dalam memori ponsel. Ini ‘kan salahnya sendiri; mengapa semua hal digantungkan pada gawai sebagai alat elektronik untuk keperluan sehari-hari!?

Cobalah mulai sekarang menghapal nomor-nomor penting, minimal nomor telepon orang-orang terdekat di rumah atau tetangga yang bisa dihubungi saat ponsel tertinggal di rumah. Atau hapalkan nomor atasan Anda, juga bawahan Anda kalau punya, agar jika ponsel tertinggal di kantor sesampainya di rumah, Anda tidak kelabakan dibuatnya karena harus menghubungi.

Implikasi dari lepas ketergantungan terhadap gawai akan luas sekali, tidak sekadar phonebook penyimpan ribuan nomor kontak dan alamat elektronik (email). Jangan pula mendewakan peta digital yang disediakan berbagai aplikasi web seperti Waze, Google Map, Google Street View, atau Here Drive, seakan-akan tanpa aplikasi itu kita sudah pasti akan nyasar di jalanan.

Percayalah, akan tetap sampai di tujuan dan dijamin tidak akan tersesat jika bertanya langsung kepada orang-orang yang Anda temui di jalanan. Itulah solusinya. Apalagi kita mengenal peribahasa malu bertanya sesat di jalan. Sederhana, bukan?

Baca Juga:  Hidup di Antara Nella Kharisma dan Via Vallen

Juga, jangan selalu mengandalkan kemampuan kepada kalkulator hanya untuk proses tambah, kurang, kali atau bagi yang sederhana hanya karena barang elektronik itu tidak berada di tangan. Gunakan saja kemampuan matematika Anda itu biar tidak lekas pikun. Otak tidak pernah bekerja karena apa-apa sudah dimudahkan gawai, niscaya akan membuat seseorang lekas terkena alzheimer, malas berpikir dan ujung-ujungnya tidak kreatif. Sel-sel otak bisa rusak jika tidak digunakan.

Kalau Anda terbiasa mendengarkan ribuan musik yang tersimpan di smartphone, iPod, atau MP3 player melalui earphone, jangan panik hanya karena tidak bisa mendengar sehari saja musik kesukaan. Toh sambil lalu Anda bisa menikmati musik dari warung kopi atau curi-curi dengar dari pengamen dengan genre yang berbeda. Percaya deh, ini akan memperkaya pemahaman Anda soal keragaman aliran musik.

Simak hasil penelitian terbaru yang dilakukan Michigan State University mengenai penggunaan gawai cerdik di kalangan pelajar. Penelitian itu menyimpulkan, smartphone multitasking yang menjadi kelengkapan sehari-hari para pelajar membuat mereka lebih bodoh dan kurang kreatif dibanding pelajar yang tidak menggunakan ponsel pintar sama sekali.

Prinsipnya adalah keseimbangan; kapan waktunya menggunakan gawai, kapan pula harus melepaskannya. Sayangnya, tidak banyak orang yang berani melepas setelah mereka mendapatkan, apalagi untuk sebuah gawai yang ditengarai dapat memudahkan kehidupan mereka sehari-hari. Nyatanya, gawai pintar membuat siswa menjadi kurang pintar.

Jadi yakin sajalah, ingatan yang kita miliki adalah kekuatan luar biasa ciptaan Tuhan yang kemampuannya jauh lebih dahsyat dari sekedar gawai ciptaan manusia yang sangat terbatas.

Persoalannya, kita lebih sering mengandalkan dan percaya pada gawai itu daripada percaya akan kekuatan ingatan sendiri, betul?

***