Gaya

Menikmati Keindahan Keberagamanan dalam Warna-warni Jodipan

jodipan
Menciptakan tempat dan tujuan wisata bisa dilakukan sederhana, yaitu melalui kreativitas. Kampung Jodipan di Malang yang penuh warna-warni salah satunya.

Saya suka warna. Suka warna-warni. Sejak masa kanak-kanak, saya sering mengagumi pelangi yang dalam istilah bahasa kanak-kanak kami di sebuah desa kecil di Tasikmalaya disebut “katumbiri”. Katumbiri nutug leuwi, demikian kami menyebutnya, berarti pelangi yang menukik ke sebuah sungai.

Pelangi yang warni-warni itu dalam bayangan kanak-kanak kami adalah perwujudan tujuh bidadari cantik yang sedang mandi di sungai. Demikian legenda itu merasuk benak sehingga saya anggap sebagai kebenaran.

Di Kota Malang juga ada “pelangi” lain, tepatnya di Kampung Warna Warni Jodipan. Bukan “7 bidadari” yang sedang mandi di sungai, tetapi “15 bidadari” mewakili 15 warna cat di kampung tersebut yang menghiasi perkampungan di bantara kali Brantas itu.

Kini, kampung itu menjadi “icon” baru wisata Kota Malang. Tidak jauh dari pusat kota, dengan melihatnya dari atas jembatan di mana kendaraan lalu-lalang, pandangan mata bisa menikmati sekitar 90 rumah penduduk yang terbelah sungai Brantas dengan 15 warna cat “full colour”.

W49ojQ30N-G1z8NKMwn6DMP8CbATNjjw.jpg

Ke Kampung Juanda, Ke Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang tempat di mana Kampung Warna Warni berada, tidak akan terpuaskan jika hanya memandang dari atas jembatan.

Dengan Rp2.000 (dua ribu rupiah) per orang, saya dan keluarga, juga teman-teman yang ikut serta, bisa langsung masuk ke kampung yang benar-benar penuh warna itu (silakan nikmati hasil foto saya di tulisan ini), mulai dari tangga, tembok, bahkan genting rumah.

“Tiket masuk” Rp2.000 itu menurut penjaganya, dua orang ibu-ibu penduduk di sana, untuk mengecat kembali rumah atau tembok yang sudah “belel” tersengat matahari.

vFiUn-Qw-H45Vnm2L4_BgSbrKwhT2IPU.jpg

Kampung Warna-Warni di Kelurahan Jodipan ini hadir atas prakarsa seorang mahasiswa bernama Nabila Virdausiyah di mana, menurut penduduk, kreativitas itu dieksekusi tujuh bulan lalu (dari saat saya berkunjung ke Jodipan pertengahan Februari 2017 lalu). Karena mendapat tugas dari dosen Public Relations, Nabila bersama tujuh rekan satu kelompoknya yang diberi nama Guys Pro-lah memulai ide mengecat kampung kumuh di bantaran kali Brantas itu menjadi warna-warni.

Baca Juga:  Istri dan Anak Disebut, Setya Novanto Mungkin "Terpaksa Menyerah"

Kebetulan pula, kreativitas Nabila cum suis yang merupakan mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini didukung produsen cat di Malang, Indana Paint, yang menyediakan dua ton cat untuk menghiasi kampung kumuh itu menjadi pemukiman yang unik dan enak dipandang mata.

Lewat proyek yang dinamai “Decofresh Warnai Jodipan”, maka mulailah 10 orang tukang cat mewarnai 90 rumah di areal yang kemudian dinamakan Kampung Warna Warni itu. Decofresh adalah salah satu produk dari produsen Indana Paint itu.

wObrBIS1ED5hnl-oGbGXT9ePSJZYNPXH.jpg

Bagi saya, ide sederhana mahasiswa UMM ini sangat brilian, sebab melebihi “PR” (Public Relations) itu sendiri. Saking terkesannya, saya langsung pasang Facebook Live Streaming dan menyiarlangsungkan keberadaan saya dan keluarga di Jodipan yang penuh warna ini kepada teman-teman Facebook saya.

Bagi mahasiswi UMM itu, ini bukan semata-mata mengenalkan Jodipan sebagai salah satu kelurahan di sana, melainkan Kota Malang terangkat dengan sendirinya. Sekarang, ke Malang tanpa berkunjung ke Jodipan ibarat menikmati sayur tanpa garam. Ini kampung yang keren, yang dengan kreativitas segelintir mahasiswa kreatif telah mengharumkan Kota Malang sebagai destinasi wisata di Jawa Timur.

Ayo ke Jodipan!

***

Catatan: Tulisan pernah ditayangkan di Selasar.