Gaya

Boleh Bergaya dengan Medsos, Tapi Belum Keren Kalau Belum Ngeblog

Blogging
Ngeblog atau menulis di blog jauh lebih keren dibanding sekadar cuap-cuap di media sosial, sebab menjadi blogger berarti memiliki personal branding sendiri.

Sebagai orang yang memprovokasi warga pembaca dengan “keharusan” seseorang membuat blog di era Internet ini, saya merasa “berkewajiban” memiliki blog sendiri. Apa jadinya kalau saya yang selama ini dikenal sebagai blogger (ketimbang dikenal sebagai wartawan) yang dalam keseharian memprovokasi orang membuat blog tetapi saya sendiri tidak punya blog? Apa kata dunia…!!?

Bermula di tahun 2004-2005 saat saya yang kala itu sebagai wartawan, mengejek istri yang sudah terlebih dahulu membuat blog gratisan dari Blogger.com. Kala itu saya masih bertugas di Surabaya. Tetapi saat masih bertugas di Makassar, istri saya terpantau sudah memiliki blog sendiri. Saya lebih mengejek lagi tatkala saya intip kontennya, cuma bercerita isi tasnya dia; dompet, lipstik, gunting kuku, cermin kecil dan lain-lain. Pokoknya ecek-eceklah, “bukan gue banget”. Itulah kesombongan saya sebagai wartawan media besar!

Tetapi yang membuat saya iri adalah interaktivitasnya. Saya lihat, kok yang komentar tentang isi tas yang ecek-ecek demikian banyak, haha-hihi di sana, menyenangkan sekali. Sementara saya yang puluhan tahun menulis di Harian Kompas tidak pernah mendapat feed back (interaktivitas) semacam itu. Saya menjadi iri sekaligus ingin tahu apa kekuatan barang baru bernama blog ini!

Peristiwa yang menjadi “titik balik” saya datang ketika pada tahun itu juga, sekitar tahun 2005, guru menulis saya yang juga wartawan senior, Luwi Ishwara, datang ke kantor Biro Kompas Jawa Timur. Ia bercerita tentang buku yang sedang dibacanya, yaitu buku “We Media” karangan Dan Gillmor. Pak Luwi bercerita bagaimana koran dalam hal ini media mainstream harus lebih menajamkan lagi pisau jurnalismenya tatkala warga pun sudah mulai membuat beritanya sendiri di media miliknya sendiri, yaitu blog!

Baca Juga:  Mungkinkah Memulai Usaha Rintisan Saat Usia Sudah di Atas 50 Tahun?

Saya berburu buku itu dan mendapatkannya. Saya baca kemudian saya banyak menulis tentang blog dan jurnalisme warga di Harian Kompas, jauh sebelum blog booming. Kemudian saya membuat blog gratisan pertama saya bernama Beranda T4 Berbagi yang sampai sekarang masih ada sebagai “milestones”. Postingan saya terakhir bertanggal 29 Juni 2009 dengan judul tulisan Gaya Saat Mengajar.

4_a36GM1vfDKU0BrQjRqZpRniAsVgEPv.png

Kemudian saya juga memiliki blog khusus musik Pepih’s PepBlog karena kesukaan saya pada musik. Saya menggunakan bahasa Inggris aksen sunda dalam blog tersebut. Maksud saya, bahasa Inggris dengan logika bahasa sunda karena harus saya akui, saya tidak mampu berbahasa Inggris. Tetapi anehnya, saya memaksakan diri untuk menulis blog dalam bahasa Inggris, khusus tentang musik yang menurut saya enak didengar, juga cerita mengenai latar belakang mengapa saya menyukai musik itu. Jelek-jelek begini saya punya blog Inggris loh!

hya1ABQMAaFZEip6Sx8jfVFvZrfcai2E.png

Karena saya suka catur, saya juga memiliki blog khusus tentang permainan adu otak ini. Penggemarnya lumayan banyak, secara saya penulis catur di Harian Kompas. Kerennya, kalau tidak mau dikatakan nekatnya, saya juga punya blog khusus bahasa Perancis di saat bahasa Perncis saya pas-pasan yang hanya fasih mengatakan Je t’aime kepada perempuan yang saya suka hahaha….. Dan karena saya berbahasa ibu sunda, tidak lupa saya punya blog khusus bahasa karuhun sunda yang saya namakan Nyunda. Banyak mojang priangan termehek-mehek kalau membaca blog berbahasa sunda ini.

pjYTy2XMAauvO5xwzvw9uO4rAUMrMIjf.png

Pada tahun 2008 saya meng-create blog sosial yang cukup fenomenal, yaitu Kompasiana yang sekarang menjadi bagian dari Kompas.com. Tetapi Kompasiana sekaligus Harian Kompas harus saya tinggalkan (tak perlu nangis bombay) karena saya bersama teman-teman sepakat mendirikan Selasar, platform berbagi pengetahuan, pengalaman dan wawasan dengan format tanya-jawab.

Baca Juga:  Adopsi Lensa Kamera DSLR, Ponsel Ini Dibandrol 4 Juta Rupiah

l4cxYZLCFKs9wjjd226t28thH2BjYl22.png

Sedikit buka rahasia… sebelum saya bergabung dengan Selasar, saya punya blog pribadi yang saya beri nama PepNews yang saya dirikan 9 September 2016. Di luar dugaan, baru dua bulan berdiri, weblog itu sudah diganjar blog terbaik tingkat nasional oleh Pandi dan ranking Alexa saat itu sudah menembus 7.000 dari ranking 2 juta dua bulan sebelumnya. Peningkatan yang fantastis dan inilah blog yang menarik perhatian Venture Capital (VC) besar di mana kalau saya lepas dan diri saya bergabung dengan VC besar itu, minimal saya mendapat Innova baru, gaji yang jauh lebih besar dari yang saya dapatkan selama ini, serta tentu saja harga (valuasi) lumayan tinggi dari PepNews itu sendiri.

XRK_Dj7BciSBsbR2AAN4sMtZADd2V2pv.png

Tetapi sebulan sebelumnya, saya sudah bersepakat dengan para pendiri Selasar untuk sama-sama membangun sebuah platform baru yang saya pikir sangat prospektif ke depannya. Ini gambling, ini judi dalam kehidupan yang pekat dengan vivere pericoloso, nyerempet-nyerempet bahaya. Saya memang menjadi salah satu pemilik di Selasar, meski hanya seperlima bagian saja dan itu harga yang saya terima atas “kehilangan” penawaran besar dari sebuah VC tadi dan juga atas resign-nya saya dari Harian Kompas.

Itu kalau berhasil. Lha kalau gagal? Bukankah itu berarti saya kehilangan kedua-duanya; resign dari koran terbesar dan duit berharga tinggi yang sudah di depan mata! Lantas, mengapa saya tidak tergiur dengan penawaran mengasyikkan dari orang-orang hebat di VC itu?

Jujur, bukan tidak tergiur, saya respek atas penghargaannya kepada saya, bahkan sampai pemilik VC yang merupakan anak orang terkaya se-Indonesia itu khusus mengundang saya makan malam di Hotel Mulia untuk membicarakan hal ini.

FDS9EdLW9kUiiq5RKfQL3ENEv57t7ZTs.png

Tetapi inilah ujian atas kredibilitas dan konsistensi sikap yang menjadi “kekayaan” tak ternilai dari diri seseorang. Jika saya “tutup mata”, saya sudah menerima tawaran dan kesempatan bernilai itu. Apalah artinya wanprestasi atas beberapa orang yang berkomitmen membentuk usaha baru, toh itu bisa saya abaikan. Tetapi, pilihan harus ditetapkan dan pilihan itu jatuh pada Selasar dengan segala risikonya. Saya benar-benar menjalani vivere pericolosoitu.

Baca Juga:  Agus Harimurti, Aceh, Pelukan Istri, dan Kisah Cinta Annisa

Bagaimana nasib PepNews.id yang punya moto “ga penting tapi perlu” itu sekarang? Saya membiarkannya tetap ada tetapi dalam keadaan “hiatus” (istirahat) dan kini mulai dihidupkan lagi. Sesekali saya isi kontennya dengan apa yang termuat di Selasar dan bahkan saya jadikan sebagai “buzzfeed” bagi konten-konten terbaik Selasar (jawaban atau jurnal) yang sedang viral.

***

Catatan: tulisan yang lahir atas pertanyaan ini termuat di Selasar, platform berbagi pengetahuan yang saya bersama kawan-kawan dirikan.