Gaya Memorabilia

Kenapa Si Doel lebih memilih Sarah dibanding Zainab?

Film, Sinetron, Si Doel Anak Sekolahan, Rano Karno, Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Headline
Pamor sinetron "Si Doel Anak Sekolahan" yang pernah ditayangkan RCTI belum memudar. Banyak orang mengenal nama dan karakternya, bukan bintangnya. Benarkah?

Ini pertanyaan yang tidak semua orang bisa menjawabnya, kecuali orang itu pernah bersentuhan atau memahami dengan hal pokok yang ditanyakan. Saya insya Allah bisa menjawabnya karena saya pernah “bersentuhan” dengan hal yang ditanyakan, baik sebagai penonton maupun mengenal beberapa karakter pemainnya.

Si Doel Anak Sekolahan adalah sebuah sinetron yang pernah ditayangkan RCTI di awal tahun 1990an dengan para bintangnya antara lain Rano Karno, Benyamin Suaib, Mandra, Maudy Koesnaedi, Djoni Irawan, Cornelia Agatha, Basuki, Suti Karno dll. Sinetron ini diadopsi dari sebuah film di awal tahun 1970an yang juga dibintangi Rano Karno, yaitu Si Doel Anak BetawiSi Doel Anak Betawi ini mulanya sebuah novel karya Aman Datuk Madjoindo.

Pertanyaannya; kenapa Si Doel (Rano Karno) lebih memilih Sarah (Cornelia) dibanding Zainab (Maudy)?

Sebenarnya itu semata-mata tuntutan skenario saja. Sarah disosokkan sebagai perempuan modern dengan gaya dan dandanan kekinian, sementara Zainab perempuan “lugu” Betawi yang dijodohkan orangtunya dengan Si Doel. Mungkin karena Si Doel ini anak sekolahan, maka pikirannya terbuka terhadap modernisasi, termasuk dalam menentukan pilihannya.

Sarah mewakili sosok perempuan muda yang mandiri, dewasa dan pikiran terbuka. Ia sosok perempuan tangguh (tough) punya sikap. Sedangkan Zainab dikesankan perempuan yang pasrah, tidak punya solusi, lebih “menyerah” pada keadaan dan menunggu pendapat orang lain alias tidak punya inisiatif sendiri.

Dari kacamata kaum lelaki, sebutlah saya berempati dengan Si Doel karena saya juga laki-laki, Sarah punya nilai lebih dibanding Zainab. Soal tampilan, dua-duanya sama-sama menarik, sama cantik dan sama manisnya. Tetapi kaum lelaki, katakanlah Si Doel, selain melihat kecerdasan, juga melihat fisik keduanya jika harus membandingkan. Sarah jelas lebih cerdas dan tampak dewasa dalam bertindak maupun berpikir. Tetapi “kelebihan” lainnya secara fisik, Sarah nampak lebih berisi, kasarnya lebih montok, dibanding Zainab yang tampak “crispy”.

Baca Juga:  Tommy Prabowo dan Usaha Membebaskan Valent

Banyak orang yang marah dan tersinggung, khususnya aktivis feminis, jika membandingkan fisik perempuan. Mereka tersinggung jika bicara soal warna kulit “hitam” dan “putih”, apalagi menempatkan perempuan berkulit putih sebagai “lebih” cantik, lebih bernilai, dibanding warna kulit lainnya. Termasuk dalam hal ini mereka juga memprotes jika ukuran dan berat tubuh dijadikan penilaian, seolah-olah tubuh semampai “lebih bernilai” dibanding tubuh gemuk, sementara tubuh montok “lebih berharga” dibanding tubuh perempuan yang “crispy” atau kering kerontang. Boleh jadi, itulah pertimbangan Si Doel mengapa lebih memilih Sarah dibanding Zainab.

Faktor “Si Roy”

Di sinetron yang sangat populer pada masanya itu, Sarah ternyata menjadi pilihan Si Doel dibanding Zainab, padahal memilih Sarah sebenarnya terbuka peluang konflik. Masalahnya, Sarah juga dikeceng oleh Si Roy (Djoni Irawan) yang betul-betul ngebet. Belum juga deal pacaran, Si Roy ini sudah seperti memiliki Sarah dan bisa mengatur-atur Sarah seenaknya. Akan tetapi, Sarah sudah menjatuhkan pilihan kepada Si Doel dan nyata-nyata menolak Si Roy dengan berbagai alasan.

djoni

Secara pribadi, saya mengenal baik dan dekat dengan pemeran Si Roy ini, sebab dia adalah tetangga saya di kompleks perumahan di mana saya mukim, Vila Bintaro Indah. Profesinya adalah pengacara, khususnya pengacara artis. Kami sering bermain catur karena punya klub kecil-kecilan. Roy alias Djoni Irawan kini sudah tiada, meninggal tahun 2012 lalu. Tetapi di sinetron Si Doel Anak Sekolahan, Si Roy diposisikan sebagai musuh Si Doel. Mungkin lebih tepat saingan berat si Doel dalam berebut hati Sarah.

Oleh sutradara, hubungan ini diskenariokan agak unik dengan maksud menciptakan konflik, di mana Sarah menaruh penuh perhatian kepada Si Doel tetapi Si Doel seperti acuh tak acuh, Si Roy menaruh perhatian penuh kepada Sarah, tetapi sebaliknya Sarah acuh tak acuh kepada Si Roy. Bagi Si Roy, dengan mudah ia berkesimpulan pangkal persoalan yang membuat Sarah bertepuk sebelah tangan karena kedekatannya dengan Si Doel. Tepatnya Sarah lebih naksir Si Doel.

Baca Juga:  Memahami Keluarnya SP3 Rizieq Shihab Luar Dalam

Yang menjadi catatan penting bagi saya tentang Djoni Irawan alias Si Roy tetangga saya itu, pada akhir Oktober 2012 pukul 16.00 sore itu kami masih bermain catur dwitarung. Kebetulan saya bertugas malam, jadi ada waktu untuk melemaskan otak dengan bermain catur. Sehari-hari, kekuatan kami biasanya berimbang. Saling mengalahkan. Tidak pernah dalam satu pertemuan, kami kehilangan angka sampai nol (0). Kalau lima partai, pertandingan biasa berakhir 3-2.

Tetapi tidak untuk sore itu. Dari 5 partai yang dimainkan, saya digulung habis sampai menderita kalah 0-5! Luar biasa, seolah-olah ada kekuatan tambahan dari dalam diri Djoni Irawan yang membuat saya tidak berdaya. Yang mengejutkan, 8 jam kemudian Djoni Irawan meninggal dunia akibat serangan jantung pada pukul 10 malam. Adalah tetangga saya juga, Haryono, yang malam-malam menghubungi lewat ponsel. Hampir tengah malam, dari jauh Haryono di ponsel setengah berteriak, “Pak Nug, Om Djoni meninggal dunia!”

Saya kaget bukan kepalang dan terloncat dari tempat tidur. Saya belum terlelap benar ketika ponsel saya berbunyi. Segera saya berlari ke arah rumah Djoni Irawan. Di sana rauangan tangis sudah terdengar. Saya mendapati kenyataan, “musuh” catur sekaligus tetangga baik saya telah berpulang setelah mendapat perawatan dokter. RSI Bintaro menyatakan, Djoni Irawan alias Si Roy meninggal dunia.

Apa yang saya ceritakan ini tidak ada kaitannya dengan jawaban mengenai Si Doel Anak Sekolahan ini.  Akan tetapi, satu hal yang menautkan ingatan saya atas pertanyaan ini adalah bahwa salah satu pemainnya, yaitu Djoni Irawan adalah kawan, “lawan”, sekaligus tetangga baik saya.

***

Catatan: tulisan ini pertama kali termuat di Selasar atas pertanyaan yang diajukan langsung kepada saya.

Baca Juga:  Messi, Michelen, dan Upaya Membumikan Pajak kepada Generasi Milenial