Fakta

Saham Sari Roti, Humor, dan Religi yang Jatuh

Aksi Boikot Ramai, Sari Roti Sepi Pembeli

Cerita siang kemarin, Sari Roti ketiban sial karena harga saham mereka katanya jatuh. Itu diceritakan dengan bangga oleh mereka yang antipati pada perusahaan tersebut, lantaran merasa punya kekuatan berlebih. Obrolan dan perhatian mereka tertuju ke soal jatuhnya harga saham itu, dan agak melupakan hal-hal lain yang jatuh; “saham” humor dan religi.

Saya harus mendahulukan humor daripada religi, kali ini.

Ya, karena bagi mereka yang mengerti bahwa humor itu setara menghirup aroma surga, takkan takut mendahulukan humor daripada kepercayaan kepada Tuhan. Sebab sudah bukan rahasia, yang ada tawa dan gembira itu, ya di surga. Jangan berharap itu ada di neraka.

Jika kemampuan humor sudah terjamin baik, maka mereka lebih siap untuk menjadi religius. Mereka bisa berbicara dengan Tuhan di mana saja mereka merindukan-Nya. Tak meremehkan Tuhan dengan anggapan bahwa Tuhan cuma bisa marah-marah. Mereka memuliakan Tuhan sebagai pemilik kegembiraan dan segala kebaikan, dan hanya menginginkan kebaikan.

Baca Juga:  Pak Hakim, Jangan Lindungi Oknum Penista Agama!

Kemarahan dan kedengkian iblis pada Adam, karena merasa bapaknya manusia ini lebih dimuliakan, membuat Dia marah. Artinya, Dia hanya marah jika ada yang lebih dulu marah-marah tidak jelas. Kemarahan-Nya jelas, karena ketidaksukaan-Nya pada kemarahan. Jika saja iblis tidak lebih dulu marah-marah, Dia takkan marah. “Aku sesuai sangkaan hamba-Ku,” kata-Nya.

Jadi, mereka yang rajin melihat sisi jenaka dari keseharian akan ada saja yang dapat ditertawakan. Tapi mereka lebih suka menertawakan diri sendiri, sebenarnya. Apalagi jika makin besar kesadaran seseorang, kian besar pengetahuan seseorang, kian besar alasannya untuk tertawa. Sebab dia menyadari, kelak di surga sana pun Tuhan menyambutnya dengan senyum indah-Nya, bukan dengan wajah masam seperti layaknya para pemarah.

Baca Juga:  Jusuf Kalla Sarankan Wakil Rakyat Gunakan Kursi Anti Ngantuk Ini

Alasan terangnya, ketika dikitari oleh para pemarah, tawa pun diharamkan cuma karena berpikir serius itu harus identik dengan muka masam, merah padam, dan bahkan menghitam. Jadi ini kenapa sebagian yang memih beragama dengan tertawa-tawa, ada yang memang memilih tertawa diam-diam. Bukan karena takut, tapi tak suka bising. Toh, sejatinya tawa bisa dilakukan dalam hening–dalam hati.

Seperti juga cerita kemarin itu, saat roti pun menjadi sasaran kemarahan. Andai di dunia ini yang beragama memiliki selera humor sama baiknya, maka akan pecah tawa di mana-mana. Menjadi sebuah tawa yang dapat menembus langit, dan mengirimkan pesan ke surga bahwa merekalah penghuninya kelak.

Tapi begitulah ceritanya.

Baca Juga:  Apa Penting dan Perlunya Berpikir Minoritas?

Jika sudah marah, roti pun bisa terlihat seperti musuh bertampang bengis yang harus dilawan mati-matian, tak peduli jika yang mati justru rakyat kecil juga yang sehari-hari menarik gerobak roti.

Marah itu bikin nurani mati. Sulit diberikan napas buatan pada siapa saja yang sudah tenggelam dalam kemarahan itu, terlepas napas buatan itu ditawarkan oleh sosok sekelas Paramitha Rusady, misalnya, tak mampu meredakan kemarahan itu.

Beda andai selera humor masih hidup dengan baik, dipupuk dengan baik, orang-orang akan terdorong untuk lebih menertawakan diri sendiri dan mencari kelucuan pada cara berpikir hingga tindakan diri sendiri. Tak cukup sekadar memiliki selera humor, tapi hanya dapat menertawakan orang-orang.

Ya, saya sendiri mencari cara-cara sederhana saja untuk dapat menertawakan diri sendiri. Misal sedang bertemu dengan orang-orang penting dan saya baru saja habis mengupil, tak tahu lagi ke mana upil tadi harus saya jentikkan, yo wes, jadikan buah tangan untuk orang penting tadi.

Atau, jika tak tega seperti itu, ambil upil tadi, masukkan ke dalam dompet. Siapa tahu bahwa upil itu memiliki mukjizat yang tak dimiliki Kanjeng Dimas; membuat duit berlipat ganda hanya lewat upil. Mukjizat yang terjadi seperti ini yang jauh dari kehebohan, sering kali lebih aman bukan? Setidaknya tak bikin Anda disorot tivi hingga berhari-hari, sementara Anda hanya menjadi orang yang sedang dikuliti.

Jadi, jangan juga menempelkan itu pada roti yang akan Anda kunyah sendiri. Apa pun mereknya, ya?*