Sketsa

Sulitnya Berkata Benar

Filsafat, Moral, Kejujuran, Bohong, Berkata, Headline
Ilustrasi (Foto: Pinterest.com)
Orang bilang di zaman serba instan ini berkata yang benar dan lurus-lurus saja tidak bakal menghasilkan apa-apa, jadilah berkata tidak benar sebuah "credo".

Berkata benar adalah kata kunci pembuka bagi perbuatan baik. Itu sih menurut hemat saya, bisa didebat. Tetapi sejak lama saya meyakini kebenaran kalimat ini: berkata benar.

Sayangnya di antara kita, saya dan mungkin juga Anda, sudah sangat sulit untuk berkata benar itu. Jangan jauh-jauh berkata benar kepada orang lain, kepada diri sendiri sajalah dulu. Kadang kita berkata tidak benar pada diri sendiri.

Sekarang, berkata benar menjadi barang mahal di keluarga, di lingkungan, di tempat kerja, atau yang lebih luas lagi di negara kita. Parahnya, kadangkala secara tidak sadar kita mengajari anak-anak kita berkata tidak benar.

Mungkin suasana seperti yang saya gambarkan ini pernah terjadi. Anda sedang enak-enak nonton televisi berbayar yang menayangkan film-film bagus, atau sedang melangsungkan ritual “the art of doing nothing” alias leyeh-leyeh, lalu ada telepon berdering. Buru-buru kita berpesan pada anak kita, “Nak, bilang ya kalau  Bapak (Ibu) sedang pergi!”

Mending kalau si anak cerdas, kalau dia polos-polos dan menjawab, “Kata Bapak barusan, ‘Bilang aja Bapak sedang pergi’!” Wah, celaka tigabelas. Sudah mengajarkan anak berkata tidak benar, masih harus menanggung malu pula.

Bukankah dengan begitu secara tidak langsung kita mengajarkan anak-anak berkata tidak benar, berkata bohong. Kepada pembantu kita barangkali berpesan hal yang sama, “Bilang saja saya lagi keluar!” Padahal, kita mungkin lagi asyik fesbukan, instagraman atau twitteran dan tidak mau diganggu.

Di lingkungan kantor pun sama saja. Budaya kongkalikong tetap tumbuh dalam skala besar maupun skala kecil. “Kita lapor saja pada Bos kalau harga barang ini sudah naik, kita minta bon ganda di toko!” Dan, saat benar-benar lapor pada atasannya, pastilah ia berkata tidak benar.

Baca Juga:  Banyak Pihak Menolak Azis Syamsuddin Pimpin DPR

Celakanya, sekali berbohong, bohong-bohong lainnya antri menanti giliran. Sikap seperti inilah yang barangkali telah menumbuhkan semangat korupsi yang kemudian “mengharumkan nama” Indonesia di kancah dunia sebagai negara terkorup di dunia yang hanya kalah dari negara-negara Afrika.

Syukurlah di bawah pemerintahan sekarang, korupsi semakin giat diberantas, gerak koruptor makin terbatas dan terjepit dan KPK semakin diberdayakan, tidak malah diterungku di jeruji besi seperti pada pemerintahan sebelumnya.

Bisa dipastikan, saat si karyawan kelak menjadi bos, ia akan berkata tidak benar kepada bosnya yang lebih tinggi lagi, apalagi pada bawahannya. Begitulah fitrah berbohong.

Di lingkungan keluarga, kalau seorang anak sudah berkata tidak benar, maka ketika tumbuh besar, kelak akan seperti itu. Seorang suami jika berkata tidak benar kepada istrinya, besar kemungkinan ada aib yang disembunyikannya, demikian pula sebaliknya.

Berkata tidak benar sering kita jumpai di kantor-kantor pemerintah, di Gedung DPR, atau di ruang sidang pengadilan. Orang bilang, kalau berkata lurus-lurus saja, kita tidak akan mendapat apa-apa. Coba kalau kita lapor keuangan dengan sebaik-baiknya, pasti yang kita terima hanya ucapan “terima kasih”, “nice work”, dan semacamnya.

Tidak ada penghasilan tambahan di situ, tidak ada uang yang dikorup di situ. Coba kalau kita berkata tidak benar dengan melaporkan hal yang tidak semestinya, pasti kita memperoleh uang dari laporan keuangan yang disalah-salahkan itu.

Bagi sebagian politikus, berkata tidak benar adalah senjata utamanya. Jangan jadi politikus kalau Anda tidak bisa berkata tidak benar alias tidak bisa berbohong. Saya yakin, Ibu Pertiwi tidak pernah mengajari anak-anak bangsanya seperti itu.

Sulitkah berkata benar? Tampaknya memang sulit. Tetapi bukan berarti tidak bisa dibikin mudah. Caranya? Ya, mulai saja dari yang sederhana; jujur kepada diri sendiri untuk selalu berkata benar.

Berkata benar di rumah jauh lebih asyik karena tanpa beban moral. Kalau memang tidak mau diganggu karena sedang tanggung nonton film di televisi atau main internet, ya janganlah menularkan berkata tidak benar pada anak atau pembantu kita. Ambil alih telepon dan berkata dengan benar bahwa kita sedang berada di rumah tetapi mohon maaf tidak bisa diganggu. Selesai.

Baca Juga:  Rotasi 85 Jenderal oleh Panglima TNI Itu Bukan Rotasi Biasa

Kalau mau perang melawan korupsi yang menyengsarakan rakyat dan bikin negara bangkrut itu, mulailah dengan berkata benar, laporan yang benar, dan seterusnya.

Memang berkata benar dalam situasi seperti ini tidak akan mendapat apa-apa, tidak akan bisa kaya mendadak, tidak akan memperoleh penghasilan tambahan. Tetapi bukankah bersikap jujur dan berkata benar merupakan investasi yang hasilnya masih akan terus mengalir sampai mati?

Barangkali, lagi-lagi “ilmu barangkali”, yang benar-benar sulit berkata benar adalah, maaf, para politikus itu. Sekali mereka benar-benar berkata benar dan melaporkan hal-hal yang benar-benar benar apa adanya kepada rakyat, kursi empuk kekuasaan bisa melayang.

Jadi, iklan pada masa lalu di televisi yang berkata tidak benar pun harus terus ditayangkan “Katakan tidak pada (hal) korupsi!” dengan kemasan lain.

Soalnya, ini taruhan amat mahal dan berharga.

Jadi, mohon maaf kalau harus selamanya berkata tidak benar.

Duh, emang sulit ya berkata benar itu.

***

Catatan: tulisan ini ternukil dalam buku yang saya tulis Ibu Pertiwi Memanggilmu Pulang, Bentang Pustaka 2013.